LAMONGAN lintasjatimnews – Iman yang tetap tegak di tengah reruntuhan. Pelajaran tauhid dari mereka yang diuji, dan teguran bagi yang hidup aman
Bencana alam seringkali datang tanpa aba-aba. Gempa, banjir, longsor, dan berbagai musibah lainnya merenggut harta, tempat tinggal, bahkan orang-orang tercinta. Namun di tengah reruntuhan itu, kita kerap menyaksikan pemandangan yang menggugah nurani: orang-orang yang kehilangan segalanya yakni tetap menjaga shalatnya.
Mereka tetap mengangkat tangan memohon pertolongan, dan tetap bersujud di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala.
Ironisnya, di sisi lain, banyak di antara umat Islam yang hidup dalam kondisi aman, nyaman, dan jauh dari bencana justru dengan mudah meninggalkan shalat. Tidak sedikit yang lalai menunaikan kewajiban paling utama setelah syahadat ini. Fenomena ini seharusnya menjadi cermin besar bagi keimanan kita.
Allah Subhanahu Wata’ala mengingatkan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan manusia.
Firman-Nya “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Bagi mereka yang tertimpa bencana, ujian bukan sekadar penderitaan fisik, tetapi juga ujian iman. Namun justru dalam kondisi terdesak itulah ketergantungan kepada Allah semakin nyata.
Shalat menjadi sandaran, doa menjadi kekuatan, dan sujud menjadi tempat mengadu. Mereka memahami bahwa tidak ada tempat bergantung selain kepada Allah.
Rasulullah Saw bersabda “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Hadis ini hidup nyata pada diri para korban bencana yang tetap memelihara ibadahnya. Ujian tidak menjauhkan mereka dari Allah, justru mendekatkan.
Sebaliknya, kehidupan yang aman dan sentosa seringkali meninabobokan. Fasilitas lengkap, kesehatan terjaga, dan rutinitas dunia membuat sebagian orang merasa tidak “butuh” kepada Allah. Padahal, kenikmatan itu sendiri adalah ujian yang tak kalah berat.
Allah berfirman “Sekali-kali tidak ! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6–7)
Merasa cukup inilah yang melahirkan kelalaian. Shalat ditunda, bahkan ditinggalkan. Padahal shalat adalah tiang agama dan bukti nyata kehambaan seseorang.
Nasihat Imam Al-Ghazali tentang Ibadah dan Ujian
Imam Al-Ghazali rahimahullah memberikan peringatan keras tentang hubungan antara ujian, nikmat, dan ibadah. Dalam Ihya’ Ulumiddin, beliau menjelaskan bahwa ujian yang paling berbahaya bukanlah musibah, tetapi kelapangan yang melalaikan.
Imam Al-Ghazali berkata “Musibah yang membuatmu kembali kepada Allah lebih baik daripada nikmat yang melalaikanmu dari mengingat-Nya.”
Beliau juga menegaskan bahwa ukuran kedekatan seorang hamba dengan Allah bukan pada kondisi hidupnya, tetapi pada ketaatannya. Shalat, menurut Al-Ghazali, adalah mi’raj-nya orang beriman, sarana menjaga hati agar tetap hidup. Ketika shalat ditinggalkan, hati pun perlahan mati, meski jasad hidup dalam kenyamanan.
Mereka yang shalat di tengah puing-puing bencana sejatinya sedang mengajari kita makna tauhid yang sesungguhnya: berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam segala keadaan. Sementara kelalaian kita di saat aman adalah tanda lemahnya rasa syukur.
Sudah seharusnya kita bertanya pada diri sendiri : jika mereka yang kehilangan rumah masih menjaga shalat, lalu apa alasan kita yang hidup nyaman untuk meninggalkannya?
Semoga Allah Subhanahu Wata’ala meneguhkan iman saudara-saudara kita yang sedang diuji, dan menjadikan musibah sebagai pengangkat derajat mereka. Dan semoga kita yang hidup dalam kelapangan disadarkan sebelum Allah menegur dengan cara yang lebih berat. Karena hakikatnya, ujian terbesar bukanlah penderitaan, melainkan hati yang jauh dari Allah.
Penulis Fathurrahim Syuhadi









