Ketika Dunia Memikat, Ingatlah Kemuliaan yang Hakiki

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan penuh hiruk pikuk, manusia sering kali dibuat terpukau oleh gemerlap dunia. Kekayaan, jabatan, kemewahan, dan popularitas menjadi ukuran kesuksesan yang seakan tak terbantahkan.

Namun, di balik semua kilau itu, Islam mengingatkan bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada apa yang tampak di mata manusia, melainkan pada apa yang tampak di hadapan Allah: iman dan takwa.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Ayat ini menegaskan bahwa standar kemuliaan yang benar bukanlah harta, keturunan, atau status sosial, tetapi ketakwaan yang hidup di dalam hati dan tercermin dalam amal.

Rasulullah Saw mengingatkan dalam sebuah hadis
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kalimat ini memisahkan antara kesuksesan yang semu dan kesuksesan yang hakiki. Banyak orang berharta tetapi gelisah, sementara ada yang hidup sederhana namun hatinya lapang dan bahagia.

Dunia memang diciptakan indah. Tetapi keindahan itu bukan untuk diperbudak, melainkan untuk dimanfaatkan sebagai jalan menuju ridha Allah. Para ulama menggambarkan dunia sebagai bayangan: semakin dikejar, semakin menjauh.

Imam Hasan Al-Bashri berkata,
“Dunia itu hanya tiga hari: kemarin yang telah pergi, esok yang belum tentu kita jumpai, dan hari ini yang menjadi kesempatan beramal.”

Sungguh renungan mendalam tentang betapa singkatnya perjalanan kita di dunia.

Ketika manusia terlalu terpesona oleh dunia, ia mulai kehilangan arah. Kebahagiaan digantungkan pada hal-hal yang rapuh: harta yang bisa lenyap, jabatan yang bisa dicabut, dan pujian yang sewaktu-waktu berubah menjadi cercaan.

Karena itu para ulama mengajarkan agar seseorang menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.

Jika dunia fana dan singkat, maka akhirat adalah negeri kekal yang sesungguhnya.

Allah Swt mengingatkan:
“Dan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 17).

Ayat ini mengajak manusia untuk mengarahkan pandangan jauh ke depan. Apa yang kita bangun untuk kehidupan kekal itu? Apakah amal kita cukup? Ataukah kita justru terlena oleh kesenangan sementara?

Maka wajar bila seseorang merenung: Apa yang sebenarnya kita kejar? Dunia yang hanya sekejap, atau akhirat yang abadi?

“Nashrun minallahi wa fathun qarib” Kalimat ini, pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat—menjadi penguat bagi siapa pun yang memilih jalan iman dan takwa. Pertolongan Allah tidak diberikan kepada mereka yang diperbudak dunia, melainkan kepada hamba-hamba yang hatinya terikat pada-Nya.

Kemenangan yang hakiki bukanlah ketika kita memiliki dunia, tetapi ketika kita mampu menguasainya. Ketika dunia tidak menipu kita. Ketika iman dan takwa menjadi penuntun setiap langkah.

Pada akhirnya, hidup ini adalah pilihan: mengikuti gemerlap dunia yang memudar, atau mengejar ridha Allah yang abadi. Semoga kita menjadi hamba yang memilih kemuliaan sejati, dan semoga nashrun minallah wa fathun qarib senantiasa bersama kita. Aamiin.

Penulis Fathurrahim Syuhadi