Pentaskan Lakon Sarip Tambak Oso, Ludruk anak – anak Kampung Kenjeran Tampil di PENS

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Dua Puluh anak-anak dari Kampng Dolanan Kenjeran berkolaborasi dengan Ricky Veka Jolembung dan Rizky Jolali, dua pelaku seni dagelan ludruk dan ketoprak asal Surabaya, menampilkan ludruk dengan lakon Sarip Tambak Oso di Kampus Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). 

Tampilan yang digelar dalam rangka implementasi teknologi dalam pembelajaran sekaligus pelestarian budaya, merupakan kolaborasi PENS dan UC melalui Program Inovasi Seni Nusantara, Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi

“Kami sangat senang bisa diundang khusus oleh Ibu Widi Sarinastiti (Dosen sekaligus ketua peneliti, red.) untuk mencoba teknologi layar dan audio panggung hidup. Dengan teknologi ini, tampilan akan menjadi lebih menarik, Dengan layar yang dapat berganti-ganti sesuai tema dan adegannya. Dan ini menjadi penyemangat anak-anak saat tampil di panggung,”ungkap Ricky.

Ricky mengapresiasi penggunaan teknologi panggung hidup pada tampilan tari remo dan ludruk siang ini. Menurutnya, teknologi harus hadir, guna pelestarian budaya. Di samping memberikan sentuhan nuansa yang lebih ‘masa kini’, teknologi yang dihadirkan diharapkan membawa angin segar bagi peningkatan partisipasi generasi muda dalam melestarikan budaya. 

“Jika teknologinya sudah mendukung, sekarang tinggal tugas pemerintah agar bagaimana budaya dan kesenian daerah ini dapat lebih dikenal dan didukung keberadaannya di masyarakat. Intinya, pemerintah harus lebih menggiatkan kesenian daerah, misalnya dengan cara lebih memberikan tempat agar bisa dikonsumsi semua lapisan masyarakat, baik dewasa maupun anak-anak,” harapnya. 

Menurutnya, di Surabaya tidak banyak lokasi yang bisa digunakan untuk tempat berkumpul dan berlatih seni. Termasuk ruang dan kesempatan berpenampilan pada acara-acara besar daerah. Penampilan ludruk sifatnya terbatas, dengan tema dan pemain yang rata-rata orang dewasa. Sehingga dibutuhkan regenerasi, baik dari sisi pemainnya, penanggapnya maupun penontonnya, agar dapat bertahan di era ini.    

Senada dengan Ricky, pimpinan Kampung Dolanan, Cak Mustofa juga menyampaikan jika anak-anak yang tampil pada pegelaran ludruk hari ini merupakan anak-anak dari Sekolah Dasar yang dikenalkan dengan ludruk hingga dilatih untuk berkesenian dengan harapan ke depannya anak-anak ini akan melanjutkan budaya ludruk.

Teknologi panggung hidup yang diusung oleh Departemen Teknologi Multimedia Broadcasting ini dimanfaatkan sebagai sistem pengolah visual utama untuk menghadirkan pengalaman panggung yang lebih imersif. Dengan menggunakan perangkat lunak Resolume, pagelaran ludruk di panggung hidup cultural showcase menjadi lebih menarik. 

Video-mapping dan live visual mixing memungkinkan visual bergerak, tampil secara dinamis dan sinkron dengan alur cerita, musik, serta gerak para pemain ludruk. Dari sini tampak relasi antara teknologi dan seni, menjadi jembatan antara tradisi dan inovasi. Sehingga seni dapat berkembang, mengikuti jamannya. Dan, anak-anak dapat lebih mencintai budaya lokal, dan mengambil bagian di dalamnya. 

Reporter: ahmadh