LAMONGAN lintasjatimnews – Salah satu penyebab seseorang merasa kecewa, marah, benci, bahkan terluka adalah ketika ia merasa diperlakukan tidak adil oleh orang lain. Apalagi jika kebaikan yang ia berikan tidak dibalas sewajarnya.
Ia berharap dihargai, ternyata diabaikan. Ia menolong, tetapi yang datang justru perlakuan yang menyakitkan. Inilah luka yang sering kali paling dalam—bukan karena musuh, tetapi karena orang yang pernah kita bantu.
Namun jika kita terlalu menggantungkan harapan pada keadilan manusia, maka bersiaplah untuk kecewa. Sebab keadilan manusia tidak pernah sempurna. Ia penuh luka, penuh bias, dan sering kali dipengaruhi oleh hawa nafsu. Keadilan sejati hanya milik Allah, Sang Hakim yang tidak pernah sedikit pun berbuat zalim.
Allah menegaskan dalam firman-Nya “Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seseorang walau sebesar zarrah (sebiji atom).” (QS. An-Nisa: 40).
Ayat ini memberi jaminan bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, tidak akan hilang di sisi Allah. Meski manusia tidak melihat, tidak mengenang, atau bahkan membalas dengan keburukan, Allah tetap mencatat dengan sempurna.
Bahkan Allah berfirman lagi “Dan keputusan (hukum) Allah itu adalah sebaik-baik keputusan.” (QS. Hud: 45). Artinya, ketika manusia menghakimi dengan tergesa, Allah menghakimi dengan bijaksana. Ketika manusia menilai dengan prasangka, Allah menilai dengan ilmu dan keadilan yang sempurna.
Rasulullah Saw juga memberikan nasihat penting agar hati tidak mudah hancur oleh perlakuan orang lain. Beliau bersabda “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapuskan sebagian kesalahannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa setiap bentuk kezaliman yang kita terima, bila kita hadapi dengan sabar dan tawakal, akan menjadi penebus dosa dan pengangkat derajat.
Para ulama menegaskan bahwa menyerahkan urusan kepada Allah adalah kunci ketenangan. Ibnul Qayyim berkata, “Siapa yang ridha dengan ketetapan Allah, maka hatinya tidak akan hancur oleh perlakuan manusia.” Ini bukan berarti menoleransi kezaliman, tetapi memahami bahwa balasan sejati tidak datang dari manusia.
Imam Al-Ghazali juga menulis dalam Ihya’ Ulumuddin, “Ketika kebaikanmu tidak dihargai manusia, maka ketahuilah Allah sedang mendidikmu untuk hanya berharap kepada-Nya.” Ini adalah pelajaran tauhid: menjaga hati agar tidak bergantung pada makhluk.
Karena itu, jangan biarkan kekecewaan merusak kemurnian niat kita dalam berbuat baik. Jangan menyesal telah membantu, jangan berhenti berbuat kebaikan hanya karena balasan manusia tidak sesuai harapan. Manusia bisa lupa, bisa ingkar, bahkan bisa menyakiti. Tapi Allah tidak pernah lupa, tidak pernah ingkar, dan tidak pernah menzalimi.
Kembalikan setiap kebaikan kepada Allah. Serahkan setiap luka kepada-Nya. Tidak perlu khawatir jika kita tidak mendapatkan keadilan dari manusia, karena masih ada keadilan Allah yang pasti, tepat, dan tanpa kecacatan sedikit pun.
Pada akhirnya, ketenangan itu datang ketika kita sadar: manusia bisa mengecewakan, tetapi Allah tidak pernah mengecewakan.
Penulis Fathurrahim Syuhadi









