Drs. KH. Ahmad Kasuwi Thorif, MA., P.Br : Pendekar Besar Tapak Suci Wafat

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews. Wafatnya Pendekar Besar Tapak Suci, Drs. KH. Ahmad Kasuwi Thorif, MA., P.Br, pada 18 November 2025 dalam usia 72 tahun meninggalkan duka mendalam bagi banyak kalangan. Sosoknya tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Tapak Suci dan dakwah Persyarikatan di Lamongan, Jawa Timur, bahkan hingga tingkat nasional.

Abah Wi, demikian beliau akrab disapa, lahir pada 10 April 1953. Dalam kehidupan keluarga, ia dikenal sederhana bersama istrinya, Hj. Fatimah. Dari pernikahannya, Allah menganugerahkan seorang putri semata wayang, Nur Asyifa, yang kini mengemban amanah sebagai Ketua Pimpinan Ranting Aisyiyah Desa Godog. Keluarga kecil ini menjadi sumber ketenangan sekaligus kekuatan yang senantiasa mendampingi pengabdian panjang beliau.

Perjalanan panjang pengabdiannya tercatat dengan tinta emas, terutama dalam dunia Tapak Suci. Ia bukan hanya pesilat, tetapi seorang legenda. Selama lebih dari tiga dekade (1980–2011), Kasuwi memimpin Pimda Tapak Suci Lamongan dan membina ribuan pendekar muda. Selain itu, ia dipercaya sebagai Ketua Nara Sumber Tapak Suci Daerah (1986–1990).

Perjalanannya terus menanjak sebagai Perintis dan Ketua Pertama Pimda Tapak Suci Lamongan, Anggota Pimwil Tapak Suci (1996–2001), Dewan Pendekar Nasional (1990–1996), Wakil Ketua Dewan Pendekar Nasional (2001–2006), Wakil Ketua Dewan Guru Nasional (2006–2011), hingga dipercaya sebagai Ketua Dewan Penasehat Tapak Suci Pimwil II Jawa Timur. Di tingkat nasional atau Pimpinan Pusat ia menjabat sebagai Anggota Bidang Al Islam dan Kemuhammadiyahan.

Dedikasinya menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Tapak Suci Indonesia. Kharisma itulah yang menarik hati para remaja dan pemuda. Keberanian, ketegasan, dan keteladanan yang ia tunjukkan membuat generasi muda antusias bergabung dengan Tapak Suci. Bagi mereka, Tapak Suci bukan sekadar pencak silat, tetapi gerakan pembentukan karakter, kedisiplinan, dan militansi yang ditanamkan Abah Wi.

Dalam Persyarikatan, rekam jejak beliau juga panjang : aktif di Tapak Suci, Pemuda Muhammadiyah, memimpin Muhammadiyah dari Ranting, Cabang dan Daerah. Ia dipercaya sebagai pengurus MUI Kecamatan Laren. Kepemimpinannya mengakar dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ribuan orang turut mensalatkan dan mengantar ke pemakaman umum desa Godog Laren. Tokoh penting dari desa, Kader Tapak Suci dari segala penjuru, para aktifis dan Pimpinan Muhammadiyah, Muspika Laren, Ketua PDM Lamongan KH Shodikin, Kasdam V/Brawijaya Brigjen TNI Zainul Bahar turut melepas almarhum ke pemakaman.

Selain sebagai pendekar, Kasuwi juga dikenal sebagai mubaligh yang tegas dan disiplin. Beliau adalah pesilat raga sekaligus pesilat kata. Hujjahnya kokoh, penjelasannya jernih, dan nasihatnya menenangkan. Dalam berbagai forum, beliau mampu menghadirkan landasan berislam yang lurus, prinsip dakwah yang berkeadaban, dan petunjuk bermasyarakat yang selaras dengan nilai-nilai Muhammadiyah. Ketegasannya membuat kawan maupun lawan menghormatinya.

Wafatnya Abah Wi bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga warisan teladan yang amat besar: keteguhan berjuang, keluasan hati, kedalaman ilmu, serta kesetiaan pada Persyarikatan. Beliau menutup perjalanan hidupnya dengan penuh kemuliaan dan kehormatan.

Kini Sang Pendekar Besar telah kembali ke pangkuan Ilahi, namun jejaknya tetap hidup. Namanya akan terus dikenang oleh para murid, para kolega, dan generasi yang merasakan sentuhan dakwah dan pengabdiannya. Jenazahnya dimakamkan di TPU desa setempat, Rabu (19/12/2025)

Semoga Allah Swt menerima seluruh amal kebaikannya, melapangkan kuburnya, menerangi peristirahatannya, dan menempatkannya di sisi para hamba-Nya yang saleh.

Reporter Fathurrahim Syuhadi