Memajukan Kesejahteraan Bangsa, Refleksi Milad ke 113 Muhammadiyah

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Selamat Milad Muhammadiyah ke-113 (18 November 1912 – 18 November 2025)

Usia yang telah melampaui satu abad ini bukan sekadar angka, melainkan saksi perjalanan panjang. Sebuah gerakan pencerahan yang terus tumbuh, bergerak, dan memberi manfaat.

Sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912, Muhammadiyah telah menjelma menjadi lokomotif perubahan—mengajarkan bahwa gerak kita bukan sekadar melangkah, tetapi menyalakan cahaya yang tak pernah padam.

Dalam rentang perjalanan ini, cahaya Muhammadiyah telah hadir dari sudut-sudut ruang kecil hingga panggung dunia. Dari mushala-mushala sederhana, ruang kelas yang dibangun dengan gotong royong, panti asuhan yang menampung anak-anak yatim, hingga rumah sakit modern yang melayani seluruh lapisan masyarakat, semua menjadi bukti nyata bagaimana gerakan ini merajut kebaikan tanpa batas.

Di sana, terhimpun semangat untuk menyeru pencerahan—menyapa umat, membimbing generasi, dan menjadi bagian penting dari peradaban yang bermartabat.

Gerakan besar ini berdiri bukan karena kekuatan materi, jabatan, atau pengaruh politik, melainkan karena hati-hati ikhlas yang terus menyala. Dalam setiap amal usaha, dalam setiap langkah dakwah, terdapat keyakinan bahwa menjadi manusia yang bermanfaat adalah puncak dari pengabdian.

Dalam semangat itulah Muhammadiyah hadir, menegaskan kembali pesan Al-Qur’an: “Khairunnas anfa‘uhum linnas”—sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat. Maka, merajut kebaikan bukanlah pilihan, melainkan identitas gerakan.

Pada momentum Milad ke-113 ini, kembali terngiang pesan yang tak lekang oleh waktu: Hidup-hidupilah Muhammadiyah—jangan mencari hidup di Muhammadiyah. Sebuah pesan yang mengajak kita menghidupkan gerakan ini dengan karya, dengan hati, dan dengan jiwa.

Bukan sekadar mengikuti arus, tetapi menciptakan arus. Menjadi bagian dari perubahan, bukan penonton. Menjadi penggerak, bukan pengikut pasif.

Karena gerakan ini tidak dibangun oleh orang-orang besar, tetapi oleh orang-orang yang membesarkan dirinya lewat pengabdian.

Hidup-hidupilah Muhammadiyah berarti menghadirkan karya yang nyata, bukan sekadar kata-kata. Menghidupkan dakwah yang membumi, bukan yang hanya berputar dalam wacana.

Menghadirkan pendidikan yang mencerahkan, kesehatan yang menyehatkan, pelayanan sosial yang meneguhkan, dan kepemimpinan yang memajukan. Cahaya itu terus bersinar karena setiap kader, simpatisan, dan warga persyarikatan mau menyalakan lentera kebaikan di tempatnya masing-masing.

Di usia ke-113 ini, Muhammadiyah telah menjadi arus perubahan. Namun, arus itu tidak boleh melemah apalagi padam. Ia harus terus mengalir, menembus batas-batas zaman, menjawab tantangan baru, dan menghadirkan solusi atas problem kemanusiaan.

Cahaya yang telah dinyalakan para pendahulu harus kita rawat, kita jaga, dan kita kuatkan dengan inovasi, kolaborasi, dan kerja ikhlas tanpa jeda.

Mari terus menyalakan terang. Mari menebar kebaikan. Mari menjadi bagian dari arus perubahan yang membawa maslahat bagi umat dan bangsa.
Selamat Milad ke-113 Muhammadiyah.

Semoga Allah meridai setiap langkah dan menguatkan setiap ikhtiar kita.

Hidup-hidupilah Muhammadiyah-dengan karya yang nyata dan hati yang menyala.

Reporter Fathurrahim Syuhadi