Janganlah Bersedih : Menguatkan Hati dengan Iman, Syukur, dan Tawakal

Listen to this article

BANJARMASIN lintasjatimnews – Kesedihan adalah bagian dari kehidupan manusia. Tidak ada seorang pun yang luput dari ujian, kehilangan, kegagalan, atau rasa letih menghadapi kenyataan hidup.

Namun Islam mengajarkan bahwa kesedihan bukanlah tempat tinggal manusia beriman. Ia boleh datang, tetapi tidak boleh menetap. Karena seorang mukmin selalu memiliki sandaran yang kokoh: Allah Yang Maha Penyayang.

Allah berfirman Swt “Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)

Ayat ini turun sebagai peneguh hati kaum muslimin setelah Perang Uhud. Luka, kekalahan, dan keletihan bukan alasan untuk terpuruk. Allah mengajarkan bahwa iman mengangkat kembali martabat, kekuatan, dan keteguhan langkah seorang mukmin.

Ketika hati terasa sempit, Islam mengingatkan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher. Dia tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Nabi Muhammad SAW bersabda “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Segala urusannya adalah kebaikan…” (HR. Muslim)

Artinya, bahkan kesedihan pun dapat menjadi pintu kebaikan: pintu kembali, pintu sabar, pintu lebih dekat dengan Allah.

Para ulama menegaskan hal ini. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata “Jika Allah menguji hamba-Nya, itu bukan untuk melemahkannya, tetapi untuk membersihkan hatinya dan mengangkat derajatnya.”

Maka jangan bersedih berlebihan. Ketika kita berbuat dosa — Allah mengampuni. Ketika kita jatuh — Allah membangunkan. Ketika kita tersesat — Allah menuntun.Ketika kita merasa jauh — Allah menunggu kita kembali.

Setiap rasa pahit dan manis dalam hidup sudah berada dalam catatan takdir. Allah berfirman Swt “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami menciptakannya.” (QS. Al-Hadid: 22)

Karena itu, seorang mukmin tidak larut dalam kesedihan. Ia menerima takdir dengan lapang dada, sebab ia tahu bahwa apa yang Allah tetapkan pasti penuh hikmah.
Imam Hasan Al-Bashri berkata “Ketahuilah, engkau tidak akan merasakan manisnya iman sampai engkau ridha terhadap takdir Allah seluruhnya.”

Bayangkan jika usia kita tersisa satu hari saja. Apakah hati masih penuh keluh kesah?
Atau justru kita ingin mengisinya dengan: syukur atas nikmat yang tidak terhitung,doa yang menenangkan jiwa, kebaikan yang membekaskan pahala, dan senyum yang membahagiakan orang lain.

Kesedihan tidak pantas memenuhi ruang hati kita yang sempit ini. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dalam duka. Sisa umur — berapa pun panjangnya — adalah kesempatan mempersembahkan syukur dan kebahagiaan di jalan Allah.

Kesedihan bukan akhir dari segalanya. Ia justru tanda bahwa Allah sedang mengajak kita kembali pada-Nya. Maka kuatkanlah hati dengan iman.Tenangkanlah jiwa dengan syukur.
Lapangkanlah dada dengan tawakal.

Janganlah bersedih. Allah selalu bersama kita. Karena bersama Allah, tidak ada alasan untuk putus asa. “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. At-Thalaq: 3)

Reporter Fathurrahim Syuhadi