LAMONGAN lintasjatimnews – Dalam hidup, kebaikan dan keburukan sering berjalan beriringan. Tidak jarang, ketika kita berbuat baik, ada saja hal buruk yang datang menyertai. Cibiran, salah paham, bahkan rasa kecewa karena hasil tak sesuai harapan.
Namun demikian, sebagaimana peribahasa bijak mengatakan, “Saat menanam padi, rumput ikut tumbuh; tapi saat menanam rumput, padi tak tumbuh.” Artinya, kebaikan yang kita tanam pasti akan membawa manfaat, meski terkadang diiringi ujian. Sebaliknya, keburukan tak akan pernah melahirkan kebaikan.
Allah Swt berfirman “Balasan bagi kebaikan adalah kebaikan (pula).”
(QS. Ar-Rahman: 60)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap amal saleh, sekecil apapun, tidak akan sia-sia di sisi Allah. Bahkan ketika manusia tak menghargai, Allah tetap mencatatnya dengan sempurna. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh bosan berbuat baik hanya karena hasilnya belum terlihat.
Rasulullah Saw juga bersabda “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatan kalian.”(HR. Muslim)
Hadis ini mengingatkan bahwa ukuran kebaikan di sisi Allah bukanlah seberapa besar hasil yang tampak, melainkan keikhlasan dan kesungguhan dalam berbuat. Kadang, niat tulus dan usaha kecil jauh lebih berharga daripada amal besar yang disertai kesombongan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis, “Jangan menunggu hasil dari amalmu, sebab amalmu hanyalah sebab; hasilnya adalah kehendak Allah. Jika engkau ridha dengan sebab dan menyerahkan hasil pada-Nya, maka engkau telah mencapai hakikat tawakal.”
Inilah makna mendalam dari kalimat: “Kerjakan bagianmu seutuhnya, biarkan Allah menyelesaikan sisanya.” Tugas manusia hanyalah berusaha dan berdoa, sedangkan hasil adalah wilayah Allah. Terkadang, kebaikan yang kita lakukan tidak langsung berbuah manis, namun yakinlah bahwa Allah tidak pernah menutup mata atas perjuangan hamba-Nya.
Allah Swt berfirman pula “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7)
Ayat ini memberi ketenangan bagi siapa pun yang merasa lelah dalam kebaikan. Tak perlu kecewa jika kebaikanmu tidak disambut manusia, karena setiap amal yang tulus pasti mendapat tempat di sisi Allah.
Maka, jangan pernah berhenti menanam kebaikan. Biarkan waktu dan kehendak Allah yang menumbuhkan hasilnya. Sebab kebaikan sejati tidak diukur dari pujian, tetapi dari keridhaan Allah yang tak kasat mata.
Saat engkau menanam padi—ketulusan, amal saleh, dan kesabaran—mungkin ada rumput yang ikut tumbuh: gangguan, ujian, atau kekecewaan. Tapi teruslah menanam padi, karena dari sanalah keberkahan hidup akan tumbuh.
Berbuat baiklah meski tak selalu sempurna, karena Allah melihat usaha, bukan hasilnya.
Reporter: fathurrahim syuhadi









