LAMONGAN lintasjatimnews – Dalam kehidupan ini, kita akan selalu berjumpa dengan orang-orang baru, kemudian berpisah dengan beberapa di antaranya. Ada yang datang hanya sebentar, namun meninggalkan kesan mendalam yang bertahan lama.
Ada pula yang pergi tanpa pesan, namun kepergiannya mengajarkan arti kehilangan dan keikhlasan. Semua itu bukanlah kebetulan. Setiap pertemuan dan perpisahan telah Allah gariskan dalam catatan takdir-Nya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (Q.S. Al-Hadid: 22)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang terjadi. Baik pertemuan, kebersamaan, maupun perpisahan adalah bagian dari skenario Ilahi. Tugas kita bukan menolak takdir, melainkan memahami makna di baliknya.
Kadang Allah mempertemukan kita dengan seseorang untuk memberi pelajaran, menguatkan hati, atau menunjukkan arah hidup yang lebih baik. Namun, ketika Allah mengambil kembali sesuatu atau seseorang yang kita cintai, sering kali hati ini enggan menerima. Kita lupa bahwa semua yang ada di dunia hanyalah titipan.
Rasulullah Saw bersabda “Sesungguhnya Allah mengambil apa yang menjadi milik-Nya dan memberikan apa yang menjadi milik-Nya, dan segala sesuatu di sisi-Nya ada batas waktunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa kehilangan bukan berarti Allah menzalimi kita, tetapi justru cara Allah mendidik kita agar tidak menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang fana.
Imam Al-Ghazali pernah menasihati, “Janganlah hatimu terpaut pada sesuatu yang akan sirna, karena jika ia hilang, engkau pun akan ikut hancur.” Maka, sandarkanlah hati hanya kepada Allah, Sang Maha Kekal.
Dalam setiap perpisahan, ada doa yang tak terucap dan hikmah yang tersembunyi. Jangan sesali kepergian seseorang, karena mungkin ia hanyalah utusan takdir untuk membentuk kedewasaan jiwamu.
Percayalah, apa pun yang Allah ambil, pasti akan Ia ganti dengan sesuatu yang lebih baik. Entah di dunia, entah di akhirat.
Akhirnya, kita belajar bahwa tiada yang abadi di dunia ini. Segala yang hidup akan pergi, segala yang datang akan berlalu. Maka, jangan terlalu terpaut pada dunia, tapi dekatkanlah hati kepada Allah Swt, satu-satunya yang kekal abadi.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









