KUDUS lintasjatimnews – Dengan tema besar “Menyalakan Obor Dakwah di Punggung Nusantara”, kegiatan Kemah Dakwah diikuti oleh santri kelas 7 hingga 11 dari berbagai jenjang di Pesantren Muhammadiyah Kudus.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang pelatihan lapangan, melainkan wahana pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kepekaan sosial bagi generasi muda Islam. Melalui kemah ini, para santri diajak menumbuhkan semangat berilmu, berakhlak, dan siap berdakwah melalui keteladanan, kerja sama, serta aksi nyata di tengah masyarakat.
Acara dibuka dengan apel bersama di halaman pesantren, diikuti dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dan doa bersama. Dalam sambutannya, Ustadz Oemar Teguh Sabda Laksana, Mundir Pesantren Muhammadiyah Kudus, menegaskan makna mendalam dari tema kegiatan ini.
“Tema ‘Menyalakan Obor Dakwah di Punggung Nusantara’ mengingatkan kita semua akan tanggung jawab besar sebagai generasi penerus dakwah Muhammadiyah. Santri Muhammadiyah harus mampu membawa obor kebaikan yang tidak hanya menyinari pesantren, tetapi juga masyarakat di seluruh Indonesia,” ujar Ustadz Oemar.
Beliau juga berpesan agar para peserta menjaga akhlak dan saling menghargai selama kegiatan berlangsung, karena dakwah sejati dimulai dari interaksi sehari-hari dengan sesama.
Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari dengan suasana yang penuh kebersamaan dan disiplin. Salah satu agenda utama adalah pelantikan Dewan Kerabat Penghela Qabilah AR Fachrudin, yang diharapkan menjadi motor penggerak kegiatan kepanduan berbasis dakwah di lingkungan pesantren.
Dalam rangkaian Kemah dakwah juga digelar Pengajian Akbar. Pengajian yang dihadiri oleh seluruh peserta kemah serta warga sekitar lokasi menghadirkan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kudus, KH. Noor Muslikhan.
Dalam tausiyahnya, beliau mengingatkan bahwa dakwah haruslah dimulai dengan memperbaiki diri sendiri, dan santri Muhammadiyah harus siap menjadi agen perubahan di masyarakat.
“Dakwah haruslah dimulai dengan memperbaiki diri sendiri, dan santri Muhammadiyah harus siap menjadi agen perubahan di masyarakat,” tegas KH. Noor Muslikhan.
Kegiatan aksi sosial pembagian sembako kepada warga sekitar Desa Rejosari juga dilaksanakan sebagai bentuk nyata dari dakwah bil hal (dakwah melalui tindakan). Pembagian sembako ini menjadi kesempatan bagi para santri untuk terlibat langsung dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mempererat hubungan dengan warga setempat.
Melalui kegiatan ini, nilai dakwah sosial ditegaskan sebagai bagian tak terpisahkan dari dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Kemah Dakwah ini menjadi momentum penting bagi para santri untuk mengasah kemandirian, tanggung jawab, dan semangat pengabdian. Dalam perspektif pendidikan pesantren, kegiatan semacam ini merupakan bagian dari tarbiyah dzatiyah — pendidikan yang menumbuhkan kesadaran diri dan tanggung jawab sosial sebagai kader umat dan bangsa.
“Obor dakwah yang tidak hanya menerangi pesantren, tetapi juga seluruh penjuru Nusantara. Obor itu adalah simbol semangat, ilmu, dan nilai Islam yang hidup dalam diri setiap santri untuk terus menyebarkan kebaikan dan menebar rahmat bagi semesta,” pungkas ujar Ustadz Oemar Teguh Sabda Laksana
Reporter Fathurrahim Syuhadi









