LAMONGAN lintasjatimnews – Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, peran guru dalam pendidikan seringkali direduksi hanya sebatas penyampai materi pelajaran. Padahal, guru sejatinya memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Guru bukan sekadar pengajar yang mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan pendidik yang membentuk karakter, memberi teladan, dan mengarahkan peserta didik menuju kehidupan yang bermakna.
Kata “pendidikan” tidak hanya berarti mengajar, tetapi juga mendidik. Mengajar lebih menekankan pada aspek kognitif, yaitu penyampaian informasi, konsep, dan keterampilan.
Sementara mendidik mencakup pembentukan sikap, nilai, serta kepribadian. Guru yang hanya fokus pada mengajar akan menghasilkan peserta didik yang pintar secara akademik, tetapi mungkin rapuh secara moral. Sebaliknya, guru yang berperan mendidik secara utuh mampu melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berkarakter.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Dari rumusan ini, jelaslah bahwa mengajar hanyalah satu bagian dari sekian banyak tugas guru. Yang lebih penting adalah bagaimana guru menjalankan fungsi pembimbing, pengarah, sekaligus teladan hidup bagi siswanya.
Peserta didik belajar bukan hanya dari kata-kata guru, tetapi terutama dari perilaku dan kepribadian guru itu sendiri. Ketika guru datang tepat waktu, murid belajar disiplin.
Ketika guru berbicara santun, murid belajar menghargai. Ketika guru bersikap adil, murid belajar tentang keadilan. Inilah yang disebut sebagai hidden curriculum—pelajaran yang tidak tertulis dalam silabus, tetapi justru sangat membekas dalam diri siswa.
Albert Bandura melalui social learning theory menekankan bahwa anak-anak belajar melalui observasi dan imitasi. Dengan demikian, keteladanan guru memiliki dampak yang jauh lebih besar dibanding sekadar instruksi verbal.
Dalam konteks Islam, Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai uswah hasanah (teladan yang baik) menjadi model ideal bagi pendidik. Guru yang meneladani sikap Nabi akan mampu memengaruhi murid tidak hanya dalam pengetahuan, tetapi juga dalam akhlak.
Selain teladan, guru juga berperan sebagai pembimbing. Setiap siswa memiliki potensi unik yang perlu digali dan dikembangkan. Tugas guru adalah membantu menemukan serta mengarahkan potensi tersebut agar berkembang optimal.
Bimbingan tidak hanya diberikan dalam aspek akademik, tetapi juga dalam kehidupan sosial, emosional, bahkan spiritual siswa.
Guru yang peka akan menyadari jika ada murid yang mengalami kesulitan belajar atau masalah pribadi. Dengan pendekatan yang penuh empati, guru dapat memberikan dukungan dan motivasi.
Di sinilah letak peran guru sebagai pendidik seutuhnya, yang berfungsi membimbing siswa menghadapi tantangan hidup.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









