SEMARANG lintasjatimnews – Pada setiap perjalanan akademik, ada kisah yang lebih dalam dari sekadar meraih gelar. Itulah yang dirasakan Muammar, M.Pd., mahasiswa asal Barabai, Kalimantan Selatan, yang tengah menempuh studi di Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang diwisuda, Sabtu [13/9/2025]
“Pada kesempatan ini dari hati yang paling dalam saya ingin mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga kepada para dosen pembimbing dan tim sukses admin Unissula sehingga kami sampai di titik ini,” ungkapnya penuh rasa syukur.
Ungkapan sederhana ini sarat makna: di balik capaian akademik, ada peran besar para pendidik, pengelola, dan seluruh pihak yang berkontribusi dalam melancarkan perjalanan mahasiswa menuju tujuan.
Bagi Muammar, pengalaman belajar di MPAI [Magister Pendidikan Agama Islam} Unissula bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang perjumpaan.
“Alhamdulillah, saya diberikan anugerah bisa bertemu dengan kawan-kawan semua. Meskipun sebelumnya belum pernah bersua, kebersamaan semakin kuat. Sapaan hangat menjadi energi untuk berproses menuju kematangan eksistensi mahasiswa MPAI,” tuturnya.
Ia merasakan bahwa dalam ruang akademik, perbedaan latar belakang justru menjadi sumber kekayaan. Dari rekan-rekan mahasiswa yang datang dengan pengalaman, profesi, dan perspektif beragam, ia belajar banyak hal yang memperkaya dirinya, baik secara intelektual maupun spiritual.
Di balik perjalanan ilmiah itu, Muammar meyakini ada nilai utama yang harus senantiasa dijaga: takwa. Keteduhan dan kedalaman makna takwa satu muara bagaimana mampu untuk membahagiakan orang lain.
“Semoga falsafah ini selalu terpatri dan tertanam kuat dalam diri saya,” ujarnya.
Takwa, baginya, bukan sekadar konsep teologis, melainkan fondasi hidup. Ia menjadi cahaya yang membimbing mahasiswa agar ilmu yang ditempuh tidak kering dari makna, dan keberhasilan yang diraih mampu memberi manfaat bagi sesama.
Hal lain yang membuatnya kagum adalah semangat luar biasa para mahasiswa pascasarjana Unissula. “Luar biasa, dengan latar belakang pendidikan bahkan multi disiplin ilmu, post graduate masih haus mereguk samudera keilmuan di prodi ini,” ucapnya penuh apresiasi.
Bagi Muammar, pemandangan itu menjadi bukti bahwa ilmu tak mengenal batas usia maupun profesi. Semangat menuntut ilmu tetap menyala, bahkan ketika sebagian mahasiswa sudah mapan dalam karier.
Muammar menutup refleksinya dengan doa: “Wallahu yubaariku fiikum. With love, proud of you all.” Sebuah ungkapan sederhana, tapi sarat dengan doa keberkahan, kebanggaan, dan rasa cinta pada keluarga akademik yang ia jumpai di Unissula.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









