LAMONGAN lintasjatimnews – “Jika engkau tidak malu, maka perbuatlah apa yang engkau suka.”(HR. Bukhari)
Kalimat ini bukanlah perintah, tapi peringatan. Rasulullah Saw mengajarkan bahwa rasa malu adalah benteng terakhir akhlak seorang hamba. Jika malu telah hilang, maka jangan harap akan tersisa kebaikan di dalam diri.
Karena malu adalah cabang dari iman, Orang yang memiliki rasa malu akan senantiasa menjaga kehormatan, menepati janji, dan menjauh dari perbuatan tercela.
Rasa malu bukan bawaan lahir semata, tapi ia bisa dibentuk melalui pendidikan, teladan, dan pembiasaan. Maka para orang tua, guru, pemimpin, dan siapa saja yang diberi amanah hendaknya menanamkan rasa malu pada mereka yang menjadi tanggung jawabnya.
Sebab dari rasa malu lahir ‘iffah (menjaga kehormatan) dan wafā’ (menepati janji), dua kualitas akhlak luhur yang semakin langka di zaman ini.
Jangan sangka bahwa bahagia itu bergantung pada rupa, harta, jabatan, atau popularitas. Allah Yang Maha Adil tidak pernah meletakkan kebahagiaan di tempat yang fana. Sesungguhnya kebahagiaan itu Allah letakkan di tempat yang paling dalam yakni di dalam hati.
Hati yang lapang, bersih, dan ikhlas. Dan ketenangan hati hanya akan kita temukan saat kita kembali kepada Allah. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”(QS. Ar-Ra’d: 28)
Kita tidak perlu membeli kebahagiaan. Ia bukan barang dagangan. Kita hanya perlu membersihkan hati, menjernihkan pikiran, dan belajar bersyukur. Orang yang bersyukur tahu bagaimana menikmati apa yang ia miliki, bukan hanya mengeluhkan apa yang belum dimiliki.
Jika tidak mendapatkan apa yang kita sukai, maka sukailah apa yang sudah kita miliki. Itu tanda iman masih hidup dalam dada.
Hidup akan terasa indah jika kita bisa menghargai satu sama lain. Hidup akan jauh lebih damai bila kita tidak menyimpan kebencian. Karena sejatinya, kita diciptakan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan, bukan untuk saling menghakimi dan menjatuhkan.
Hidup bukan tentang seberapa keras kita bisa memukul dunia, tapi seberapa kuat kita bangkit setelah dipukul oleh ujian. Sukses bukan sekadar mimpi, tapi hasil dari kerja keras, kesetiaan, pengalaman, dan kegigihan.
Beberapa orang hanya memimpikan kesuksesan. Tapi sebagian lainnya bangun lebih pagi untuk memperjuangkannya.
Marilah kita terus belajar untuk malu berbuat dosa, malu menunda taubat, dan malu tidak bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya yang tak terhitung. Semoga Allah Swt mengaruniakan kepada kita hati yang penuh iman, pikiran yang jernih, dan langkah yang istiqamah menuju ridha-Nya.
Fathurrahim Syuhadi