LAMONGAN lintasatimnews – Salam adalah doa dan tanda kasih sayang sesama muslim. Dengan salam, hubungan persaudaraan terjalin, hati menjadi lembut, dan rasa cinta tumbuh di tengah masyarakat.
Allah Swt berfirman “Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu salam, maka balaslah dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah Swt memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 86).
Ayat ini menegaskan bahwa salam bukan sekadar sapaan, melainkan doa kebaikan yang membawa keberkahan, dan wajib dihargai dengan balasan yang lebih baik.
Rasulullah Saw bersabda “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa salam adalah kunci tumbuhnya cinta, iman, dan pintu menuju surga.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin memberi pesan mendalam tentang pendidikan anak: “Anak itu amanah bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang suci adalah permata yang berharga, sederhana, dan bersih dari segala ukiran dan gambar. Jika dibiasakan dengan kebaikan, ia akan tumbuh dalam kebaikan dan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.”
Pesan Imam al-Ghazali ini sangat relevan dengan pembiasaan salam. Anak yang sejak dini diajarkan mengucapkan salam, sesungguhnya sedang ditanamkan benih akhlak mulia berupa cinta kasih, kelembutan, dan kebiasaan mendoakan orang lain. Jika sejak kecil terbiasa, maka salam akan menjadi bagian dari identitas dirinya kelak.
Namun, realita saat ini menunjukkan banyak anak lebih akrab dengan sapaan “hai” atau “halo” dibanding salam Islam. Tentu sapaan itu tidak salah, tetapi jika salam ditinggalkan, maka hilanglah doa, rahmat, dan sunnah Nabi Muhammad Saw.
Karena itu, orang tua dan guru perlu membiasakan anak mengucapkan salam dalam berbagai momen—saat keluar rumah, masuk sekolah, atau ketika bertemu tetangga.
KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, juga menekankan pentingnya menghidupkan ajaran Islam dalam tindakan nyata. Membiasakan salam adalah salah satu bentuk nyata menghidupkan ajaran Islam yang penuh kasih sayang.
Membiasakan salam juga melatih anak menjadi pribadi yang rendah hati dan penuh kedamaian. Rasulullah Saw bersabda: “Sebarkan salam, berikan makan, sambung silaturahmi, shalatlah ketika orang-orang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah).
Maka, mari jadikan salam sebagai budaya keluarga. Ajarkan anak-anak sejak dini untuk mengucapkan salam dengan tulus, ikhlas, dan penuh senyum. InsyaAllah, dengan salam, rumah kita dipenuhi rahmat, masyarakat kita dilingkupi cinta, dan generasi kita tumbuh menjadi penebar kedamaian.
Reporter Fathurrahim Syuhadi