Guru dalam Perspektif Islam dan Kebangsaan

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Guru adalah sosok yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari perjalanan peradaban manusia. Dari tangan para gurulah lahirlah generasi yang cerdas, berakhlak, dan mampu membangun peradaban.

Dalam Islam, guru dipandang mulia karena menyampaikan ilmu dan menuntun akhlak. Dalam perspektif kebangsaan, guru adalah pilar bangsa yang melahirkan manusia merdeka, berkarakter, dan cinta tanah air.

Al-Qur’an berulang kali menegaskan kemuliaan orang berilmu. Allah SWT berfirman “Katakanlah : Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9).

Ayat ini menegaskan perbedaan derajat antara mereka yang berilmu dan yang tidak. Guru sebagai penyampai ilmu memiliki kedudukan khusus, karena menjadi perantara bagi lahirnya manusia berpengetahuan.

Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36).

Ayat ini mengingatkan pentingnya ilmu sebagai dasar amal. Sekaligus menegaskan tanggung jawab guru agar menyampaikan ilmu yang benar.

Guru tidak hanya menyampaikan apa yang diketahui, tetapi juga harus berhati-hati agar ilmunya membawa manfaat dan tidak menyesatkan.

Allah Swt juga berfirman “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28).

Ayat ini menegaskan bahwa ulama dan guru sejati adalah mereka yang memiliki ilmu dan ketakwaan. Ilmu yang dimiliki seorang guru seharusnya melahirkan rasa takut kepada Allah, sehingga apa yang diajarkan selalu bernilai ibadah.

Rasulullah Saw pun memberikan penghormatan tinggi kepada orang yang mengajarkan ilmu. Beliau bersabda “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Hadis ini menggarisbawahi peran guru sebagai penghubung manusia dengan Al-Qur’an, ilmu, dan kebaikan. Seorang guru bukan hanya menyampaikan pengetahuan duniawi, tetapi juga menjadi perantara lahirnya generasi Qur’ani.

Para ulama klasik memberikan pandangan yang meneguhkan kemuliaan guru. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa guru adalah “pewaris para nabi” karena mereka melanjutkan misi risalah yakni menyampaikan ilmu dan menuntun umat menuju kebenaran. Imam Syafi’i bahkan berkata bahwa murid tidak akan memperoleh keberkahan ilmu jika tidak menghormati gurunya.

Dengan demikian, posisi guru dalam Islam bukan sekadar pengajar, melainkan penjaga keberkahan ilmu.

Dalam sejarah kebangsaan, guru menempati posisi penting sebagai penggerak kesadaran rakyat. Pendidikan yang diberikan oleh guru-guru Indonesia bukan hanya soal membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga menanamkan semangat kebangsaan dan kemerdekaan.

Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional menegaskan filosofi: “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”

Filosofi ini menjadi dasar bahwa guru berperan ganda: memberi teladan di depan, menyemangati di tengah, dan mendukung di belakang. Filosofi ini juga sangat Islami, karena menekankan keteladanan, motivasi, dan penguatan karakter.

Bung Karno dalam banyak pidatonya menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan dan gurunya. Guru termasuk pahlawan tanpa tanda jasa yang telah membentuk generasi sejak awal perjuangan.

Sementara itu, Bung Hatta mengingatkan: “Pendidik sejati bukan hanya mengajar ilmu, tetapi membentuk manusia merdeka jiwanya.” Hal ini menunjukkan bahwa guru adalah pembentuk watak kebangsaan.

Tokoh-tokoh ulama sekaligus pahlawan nasional seperti KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari adalah contoh nyata guru yang menyatukan nilai Islam dan kebangsaan. KH. Ahmad Dahlan, melalui Muhammadiyah, mendirikan sekolah-sekolah yang menanamkan ilmu pengetahuan modern sekaligus akhlak Islami. KH. Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren Tebuireng dan menekankan pendidikan berbasis Islam yang berorientasi pada cinta tanah air.

Semua tokoh ini menunjukkan bahwa guru bukan hanya agen pendidikan, tetapi juga agen perubahan sosial dan politik yang menentukan arah bangsa.

Islam menekankan guru sebagai penyampai ilmu yang membimbing umat menuju kebaikan, sedangkan kebangsaan menekankan guru sebagai pencetak generasi berkarakter dan cinta tanah air. Keduanya saling melengkapi.

Seorang guru yang ikhlas mengajar sesungguhnya telah menjalankan perintah Allah untuk menyebarkan ilmu. Pada saat yang sama, ketika guru menanamkan nilai nasionalisme, ia sedang menghidupkan ajaran hubbul wathan minal imanyakni cinta tanah air sebagian dari iman.

Dalam konteks menuju Indonesia Emas 2045, peran guru semakin penting. Guru dituntut tidak hanya menguasai pengetahuan dan teknologi, tetapi juga membangun generasi yang berakhlak, beriman, berkarakter kebangsaan, dan mampu bersaing di dunia global. Tantangan zaman ini menuntut guru untuk kreatif, inovatif, sekaligus menjaga ruh spiritual dan nasionalisme.

Guru adalah pelita kehidupan. Dalam perspektif Islam, guru dimuliakan karena mengajarkan ilmu, menuntun akhlak, dan menjadi pewaris para nabi. Dalam perspektif kebangsaan, guru dihormati karena membentuk manusia merdeka, berkarakter, dan cinta tanah air.

Menghormati guru berarti menjaga keberkahan ilmu. Mendukung guru berarti menjaga masa depan bangsa. Islam dan kebangsaan bertemu pada satu pandangan guru adalah pilar peradaban, cahaya umat, dan penuntun bangsa menuju kejayaan.

Reporter Fathurrahim Syuhadi