LAMONGAN lintasjatimnews – Hidup memang tidak selalu mudah. Setiap manusia akan diuji dengan berbagai tantangan yang berbeda: kehilangan, kegagalan, kekecewaan, maupun tekanan hidup yang datang silih berganti. Namun, tenanglah.
Ketenangan bukan milik mereka yang hidup tanpa masalah, melainkan milik mereka yang memiliki hati yang lapang dalam menghadapi setiap masalah.
Rasulullah bersabda “Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia menguji mereka. Barang siapa yang ridha, maka baginya keridhaan. Barang siapa yang murka, maka baginya kemurkaan (HR. Tirmidzi)
Hati yang sempit akan membuat dunia terasa sempit. Seseorang bisa memiliki rumah luas, harta berlimpah, bahkan teman di mana-mana, namun tetap merasa sempit dan gelisah.
Sebaliknya, orang yang hatinya lapang bisa merasa cukup dan damai meski hidupnya sederhana. Karena sejatinya, luas atau sempitnya dunia bukan terletak pada keadaan, tapi pada hati.
Allah Swt berfirman “Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki sesat, niscaya Dia menjadikan dadanya sempit lagi sesak…(QS. Al-An’am: 125)
Jika hari ini hatimu terasa sempit, ambillah waktu sejenak untuk merenung. Hentikan langkah, tarik napas panjang, dan dekatkanlah dirimu kepada Allah.
Luangkan waktu untuk berdoa, bermunajat, dan memperbaiki hubungan dengan-Nya. Di situlah awal mula kelapangan hati akan muncul.
Maafkan apa yang perlu dimaafkan. Tidak semua hal perlu disimpan dalam hati. Kadang, memaafkan bukan karena orang lain pantas untuk dimaafkan, tapi karena kita butuh kedamaian dalam jiwa.
Jangan biarkan luka yang lama menjadikan hari-hari kita pahit. Lapangkan dada, ikhlaskan masa lalu, dan bersyukurlah atas apa yang masih kita miliki.
Rasulullah Saw bersabda “Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah (HR. Bukhari dan Muslim)
Jangan menuntut dirimu untuk sempurna agar bisa bahagia. Cukup katakan pada dirimu: “Aku tidak harus sempurna untuk bahagia. Aku hanya perlu hati yang lapang untuk tenang.”
Terima kekuranganmu, hargai usahamu, dan cintai proses hidupmu. Karena hati yang lapang adalah sumber kekuatan terbesar dalam menata hidup yang penuh tantangan.
Sebab ketenangan itu bukan dicari ke luar, tapi dirawat dari dalam. Ia tumbuh dari keyakinan, keikhlasan, kesabaran, dan kedekatan kepada Allah. Maka jagalah hatimu seperti taman yang harus disirami dengan zikir, doa, dan rasa syukur.
Lapangkan hatimu, maka engkau akan melihat dunia dengan lebih jernih. Luaskan duniamu dengan mencintai kebaikan, menebar maaf, dan menyandarkan hidup hanya pada-Nya.
Saat hatimu lapang, maka langkahmu pun akan ringan, dan hidupmu pun akan lebih bermakna. Di sanalah ketenangan akan menetap, dan dari sanalah dunia terasa lebih luas. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.(QS. Ar-Ra’d: 28)
Reporter Fathurrahim Syuhadi