Tadarus Pemikiran dan Bukber HIMKA IMM Lamongan Dihadiri Peneliti ISEAS Singapura

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews.com – Dalam rangka memanfaatkan momen Ramadan 1445 H, Himpunan Kader Intelektual Muda Muhammadiyah (HIMKA IMM) Lamongan menggelar Tadarus Pemikiran dan Buka Bersama (Bukber). Kegiatan bertempat di Karimah Caffe dan Resto Kandangsemangkon Paciran, Ahad (31/3/2024).

Tema kegiatan yang diangkat “Moderasi Mengeratkan dan Pemersatu Bangsa”, hadir dalam acara aktivis dan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) sebagai bahan dan wawasan pencerahan dalam moderasi keberagamaan. Sebagai Keynote Speaker acara Pradana Boy ZTF, MA, PhD (Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Malang dan Ketua Lambaga Pengembangan Pesantren PW Muhammadiyah Jawa Timur).

Pukul 16.00 WIB kegiatan dimulai dengan sambutan dari Koordinator Presidium HIMKA IMM Lamongan, Agus Rudi yang akrab dengan panggilan Gus Rudi. Dalam sambutannya menyampaikan, “Kondisi bangsa dan intelektual muda saat ini, khususnya Muhammadiyah mulai jenuh dengan pemikiran yang ada, karena banyak diskusi diadakan hanya dalam ruang-ruang formal saja,” jelasnya.

“Hal tersebut kurang selaras dengan kondisi riil di lapangan yang dihadapi saat ini, banyak program dan aksi tidak diawali dengan diskusi yang bisa melahirkan ide dan gagasan segar. Justru banyak kegiatan aksi beralih ke arah taktis dan pragmatis belaka,” pungkas pria asal Sedayulawas Brondong.

Lebih lanjut Gus Rudi, “Tema di atas penting untuk diangkat menjadi bahan diskusi di tengah kondisi pasca pemilu saat ini, sangat mungkin akan terjadi perpecahan bangsa. Ego kelompok tertentu yang ingin berkuasa akan membuat bangsa terpecah-belah, maka Tadarus Pemikiran sebagai solusi menjaga keutuhan bangsa. Kuncinya moderasi sebagai salah satu, bersikap sedang-sedang saja,” jelasnya.

Dalam kesempatan Tadarus Pemikiran, Pradana boy ZTF, MA, PhD menjelaskan, “Bahwa ruang diskusi dan kajian seperti hal ini harus terus hidup dalam aktivis dan AMM, karena menjadi identitas Muhammadiyah. Pemikiran dan moderasi senada dengan watak atau kepribadian Muhammadiyah, yaitu tepat berada di tengah-tengah. Artinya tidak kekiri-kirian ataupun kekanan-kananan,” jelasnya.

“Kita harus mengisi ruang-ruang kosong atau bahkan ruang strategis di pemerintahan, karena dari pemerintahan kita akan mampu menghibarkan pemikiran Muda Muhammadiyah. Dalam sejarah berdirinya bangsa Indonesia, Muhammadiyah dan pemerintah selalu berjalan beriringan. Mari kita isi ruang-ruang itu untuk tegakkan kebajikan bangsa,” ujar pria yang menjabat Visiting Fellow (Peneliti Tamu), Institute of Southeaat Asian Studies (ISEAS) Singapura.

Reporter: Efendy