Ummu Sulaim dan Abu Thalhah Dikisahkan dalam Kajian Ramadhan di Masjid Al-Furqon

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews.com – Kisah Ummu Sulaim dan Abu Thalhah dikisahkan oleh Ustadz H. Ali Mifti dalam Kajian Ramadhan Jelang Berbuka di Masjid Al-Furqon PRM Muhammadiyah Parengan, Rabu (20/03/2024).

Ustadz H. Ali Mifti mengisahkan bahwa Ummu Sulaim atau dikenal juga sebagai Rumaysho adalah perempuan pertama dari kaum Anshar yang masuk Islam. Dia adalah sosok wanita cantik yang berakhlak mulia. Setelah suami Ummu Sulaim yakni Malik bin An-Nadhr meninggal dunia, dia dilamar oleh sahabat nabi yang bernama Abu Thalhah, pria tampan. yang sangat menawan. Namun, Ummu Sulaim memilih menolaknya karena saat itu Abu Thalhah belum memeluk agama Islam.

Diriwayatkan ketika suaminya, Malik meninggal dunia, Ummu Sulaim dilamar oleh sahabat nabi yang bernama Abu Thalhah dan saat itu Abu Thalhah belum masuk Islam, Ungkap Ustadz Ali, panggilan sang penceramah.

Ali melanjutkan kisahnya, Abu Thalhah bukanlah pria yang pantas untuk ditolak. Pasalnya, dia adalah seorang pria tampan dan juga hidup dengan serba-kecukupan, sehingga tidak ada alasan bagi siapa pun untuk menolak lamarannya. Namun karena Abu Thalhah bukan orang yang beriman, Ummu Sulaim dengan tegas menolak lamaran tersebut. Padahal saat itu Ummu Sulaim hidup dalam kemiskinan. Ditambah lagi, dia baru saja ditinggal pergi oleh sang suami. Namun, ia tetap tegas menolak lamaran Abu Thalhah.

Rupanya Ummu Sulaim tidak ingin kehilangan Allah Subhanahu wa ta’ala dengan menikahi Abu Thalhah. Baginya, meski hidup dalam kemiskinan, dia akan menjadi orang terkaya jika hal tersebut dijalani karena Allah Ta’ala. Keputusannya itu sangat membuat takjub, dia begitu taat kepada Allah Ta’ala meski baru beberapa hari masuk Islam.

Ummu Sulaim tahu makna daripada akidah. Dirinya tidak ingin kehilangan Allah, siapa pun yang datang membawa harta besarnya, sekalipun emas yang dibawa, kalau dia kehilangan Allah, maka sama halnya tidak punya apa-apa. Tapi kalau dirinya bersama dengan Allah Subhanahu wa ta’ala, walaupun dzahirnya tidak punya apa-apa, dia tetap menjadi orang yang paling kaya, kisah Ustadz H. Ali Mifti

Ummu Sulaim kemudian mengajukan satu syarat kepada Abu Thalhah yakni masuk Islam. Tidak perlu emas ataupun perak, menurut Ummu Sulaim, keislaman Abu Thalhah sudah lebih daripada sebuah mahar. Mendengar permintaan itu, Abu Thalhah akhirnya masuk Islam. Lalu, keduanya pun menikah.

Kejadian itu membuat Ummu Sulaim menjadi wanita pertama yang menjadikan keislaman sebagai mahar sebuah pernikahan. Kisah itu menjadi inspirasi para Muslimah agar senantiasa menjadi wanita yang baik dan berakhlak mulia.

Lebih lanjut Ustad, Ali Mifti mengisahkan, dengan menukil terjemahan berapa hadits. Berikutnya kisahnya:

Dari pernikahannya dengan Abu Thalhah, Ummu Sulaim mempunyai anak yang bernama Abu Umair. Nabi SAW sering bercanda dengan Abu Umair ketika berkunjung ke rumah Abu Thalhah.
Suatu ketika Abu Umair menderita sakit yang cukup parah. Pada saat yang sama, Abu Thalhah sedang ada keperluan keluar dalam waktu agak lama, dan ketika itu anaknya meninggal dunia. Karena suaminya tidak ada di rumah, Ummu Sulaim mengurus sendiri jenazah anaknya. Ia memandikan dan mengkafaninya serta membaringkannya di tempat tidur.

Hari itu Abu Thalhah sedang berpuasa sunnah, karena itu Ummu Sulaim pun menyiapkan makanan bagi suaminya untuk berbuka. Ia juga berhias dan memakai wangi-wangian untuk menyambut suaminya.

Malam harinya Abu Thalhah pulang, ia berbuka dengan makanan yang disiapkan istrinya. Ia bertanya tentang keadaan anaknya yang sakit, dan Ummu Sulaim menjawab, “Alhamdulillah, dia dalam keadaan yang baik-baik saja. Engkau tidak perlu memikirkan keadaannya lagi, jelas Ummu Sulaim.

Tentu, maksudnya adalah menenangkan suaminya tanpa ia harus mendustainya. Karena sudah meninggal, jelas saja tidak perlu dipikirkan lagi. Abu Thalhah pun menjadi tenang, ia meneruskan makannya.

Selesai makan malam, Ummu Sulaim mengajak bercengkerama sambil menghibur Abu Thalhah. Yang kemudian dilanjutkan hubungan badan hingga tertidur pulas. Ketika bangun pagi harinya, Ummu Sulaim yang sudah bangun terlebih dulu bertanya, “Wahai suamiku, seandainya seseorang diberi suatu amanah, kemudian pemiliknya mengambilnya kembali, haruskan ia mengembalikannya kembali?”
“Tentu,” kata Abu Thalhah, “Dia harus mengembalikannya, ia tidak punya hak untuk menyimpannya!”

Mulailah Ummu Sulaim menjelaskan keadaan anaknya, “Suamiku, Allah telah mengamanatkan Abu Umair kepada kita, namun kini Dia telah memanggilnya kembali kemarin.”

Mendengar penuturan ini, Abu Thalhah jadi sedih, bahkan sedikit marah. Ia menyesali kenapa Ummu Sulaim tidak memberitahukannya semalam. Ia menemui Nabi SAW dan mengadukan apa yang dilakukan istrinya.

Ternyata Rasulullah SAW memuji kesabaran dan apa yang dilakukan Ummu Sulaim tersebut, beliau juga mendoakan, “Semoga Allah SWT memberkati hubunganmu tadi malam bersama istrimu.”

Doa Rasulullah pun menjadi kenyataan. Dari hubungannya itu, Ummu Sulaim melahirkan seorang anak yang diberi nama Abdullah bin Abu Thalhah. Dan lama berselang setelah Nabi SAW wafat, Abdullah mempunyai sembilan anak yang semuanya Hafidz Qur’an.

Kajian Ramadhan Jelang Berbuka dimulai pukul 17.00 hingga masuk waktu berbuka pukul 17.45 dihadiri 150 an jamaah Masjid Al-Furqon PRM Muhammadiyah Parengan. Jamaah menyimak kisah Ummu Sulaim dan Abu Tholhah dengan penuh hikmat.

Reporter M. Said.