LAMONGAN lintaslatimnews.com – Dalam Qur’an Surat Ali Imron ayat 185 disebutkan bahwa setiap jiwa akan menemui kematian. Ungkapan tersebut disampaikan Hj. Juwariyah mengawali sambutannya untuk membuka acara Pelatihan Perawatan Jenazah yang diselenggarakan Pimpinan Cabang (PC) Aisyiyah Kalitengah, Ahad (17/03/2024).
Kegiatan tersebut adalah salah satu dari beberapa kegiatan program Ramadan untuk memperbanyak dan meningkatkan amal sholeh baik yang bersifat ubudiyah mahdoh maupun kegiatan amal sosial. Pelatihan yang diikuti lima puluhan ibu-ibu itu juga dihadiri peserta dari ibu muslimat yaitu ibu Hj.Sufiyati.
Pelatihan yang dipandu bapak Rodli dengan TIM Nasyiatul Asyiah Ranting Canditunggal yang disiapkan terlebih dahulu itu menjadi pelatihan yang cukup menarik dan memotivasi peserta semakin antusias mengikutinya dari tahapan materi umum sampai pada praktek. Ibu-ibu peserta juga menanyakan beberapa kasus yang seringkali mereka hadapi di lingkungan terkait perawatan jenazah, juga berbagi pengalaman dari beberapa ibu yang kebetulan juga sering ikut terlibat dalam merawat jenazah di kampungnya.
Sebagaimana materi inti yang diambil dari Putusan Fatwa Tarjih tentang tuntunan merawat jenazah, peserta semakin tercerahkan bahwa kemampuan merawat jenazah itu kewajiban setiap orang, bukan hanya tanggungjawab modin kampung. Sebab setiap individu kebanyakan akan mengalami bahwa salah satu dari keluarganya akan meninggal terlebih dahulu. Maka seharusnya yang paling bertanggungjawab merawatnya adalah keluarga terdekatnya.
Materi yang disampaikan bapak Rodli, S.Pd., M.Pd. yang merupakan ketua PCM Kalitengah itu cukup runtut. Mulai dari menalqinkan ketika saat sakaratul maut, memastikan sudah meninggal, memandikan, mengkafani dan menyolatkan. Tentu ibu-ibu tidak perlu diberi pelatihan sampai penguburan sebab bagi wanita dilarang untuk ikut mengantar sampai ke pemakaman ikut menguburkan jenazah.
Poin penting pada Pelatihan Perawatan jenazah tersebut adalah semua perempuan harus siap dan bisa memandikan bila nanti ada keluarga perempuan yang meninggal, sebab itu lebih utama daripada dimandikan orang lain yang berpotensi menyebarkan aib jenazah bila ditemukan. Poin yang terpenting lainnya adalah ibu-ibu tidak boleh menjadi penonton ketika perawatan jenazah berlangsung, mereka harus siap dan bisa mengkafani, juga siap menyolatkan bersama ibu-ibu lain di rumah sebelum jenazah disholatkan di masjid.
Kegiatan yang dilaksanakan tepat pada hari ketujuh Ramadhan 1445H di masjid Alakbar itu menjadi kegiatan yang sangat bermanfaat agar hal-hal yang keluar dari syariat perawatan jenazah keluarganya semakin bisa diminimalisir, sebab perawatan jenazah itu juga merupakan ibadah mahdhoh yang ketentuannya sudah diatur dengan tertib di baik dalam Alquran maupun Hadits Rasulullah.
Bu Hj. Juwariyah merasa bahagia sebab acara yang dilaksanakan pada waktu menjelang siang itu cukup menggugah para kader Aisyiah dan Nasyiatul Aisyiah serta seluruh peserta belajar lebih banyak lagi tentang praktek ibadah yang sesuai tuntunan Tarjih Muhammadiyah yang berdasarkan Alquran dan Hadits.
Reporter M. Said









