Musim Barat Akhirnya Tiba, Nelayan Kecil Lamongan Libur Total

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews.com – Berdasarkan iklim tropis di Indonesia, musim barat (Baratan) bisasanya terjadi di bulan Desember sampai dengan bulan Februari. Namun tahun ini terjadi anomali cuaca sebagai dampak perubahan iklim global sehingga musim barat mengalami perubahan menjadi mundur.

Konsistensi musim barat yang tidak menentu menjadikan nelayan kurang aman dalam melaut, karena terkadang datang angin dan mendung pekat. Setalah dua bulan menunggu musim barat, akhirnya datang juga di pekan kedua bulan Maret 2024. Kedatangannya bersamaan dengan pelaksanaan ibadah puasa Ramadan 1445 H.

Istilah Musim Barat atau “Baratan” terjadi di laut Jawa utara dengan kondisi cuaca di lautan sangat buruk dan eksterm. Lautan ditandai dengan angin sangat kencang dari arah barat, awan hitam pekat bergulung-gulung dan sering terjadi hujan seharian. Musim Barat juga disertai dengan ombak dan gelombang laut yang sangat besar mencapai 1 sampai dengan 3 meter.

Musim barat sangat memberatkan bagi nelayan kecil Lamongan, padahal nelayan harus tetap memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari di tengah harga bahan pokok meroket. Di samping itu, nelayan harus memenuhi kebutuhan biaya pendidikan bagi anaknya, pulsa listrik agar tetap menyala, persiapan menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Salah satu nelayan Blok Gerong RW IV RW 01 Paciran, Mudhofar Hadi, menuturkan kepada reporter lintasjatimnews, Sabtu (16/3/2024), “Musim barat bisanya dialami nelayan kecil Lamongan di tahun ini agak telat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu molor sampai dua bulan,” tuturnya.

“Kita tidak tahun pasti sampai berapa lama musim barat dialami yang dialami nelayan kecil tahun ini (2024). Biasanya musim barat terjadi sampai 2 bulan, bahkan terkadang hingga 3 bulan, muali bulan Desember, Januari, dan Februari. Setiap musim barat, nelayan kecil tidak berani melaut, karena kondisi cuaca sangat buruk yang bisa membahayakan keselamatan dirinya,” pungkasnya.

Setiap musim barat, nelayan kecil duduk berkelompok dan ngobrol di camp (gubuk-gubuk) sepanjang pesisir pantai utara Jawa. Sambil memandang gelombang laut yang bergulung-gulung dan mendung hitam pekat, serta mereka berdo’a kepada Allah supaya musim barat segera reda (tedo) agar bisa melaut lagi.

Musim barat berdampak pada perekonomian masyarakat pesisir, khususnya nelayan kecil nelayan karena sebagai tulang punggung perekonomian keluarga. Dampak juga dirasakan bagi pelaku ekonomi berbasis perikanan laut dan keluarga nelayan pekerja nguplik (pengupas) rajungan. Maka setiap musim barat akan terjadi kemiskinan temporer (Seasonal poverty) di perkampungan nelayan kecil.

Tugas dan tanggungjawab pemerintah daerah, organisasi profesi nelayan, DPRD, LSM, dan kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap nelayan kecil untuk melakukan pendampingan dan pemberdayaan nelayan dan keluarganya pada musim barat. Tujuannya agar nelayan kecil dapat keluar dari kemiskinan temporer setiap musim barat tiba.

Reporter: Efendy