Khutbah Jumat: Memaknai Kemerdekaan dalam Perspektif Tauhid

Listen to this article

Lamongan lintasjatimnews.com – Muhammad Wahid (Ketua Yayasan Ma’had Al Muttaqin Blimbing) memberikan Khutbah Jum’at, (25/8/2023) di Masjid Al Muttaqin Desa Tugu Kecamatan Mantup Kabupaten Lamongan.

Berikut teks Khutbah Muhammad Wahid yang mengusung tema “Memaknai Kemerdekaan Dalam Perspektif Tauhid’

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.

Puji dan syukur kita persembahkan kehadapan Allah subhanahu wata’ala yang telah memberi kenikmatan berupa kesehatan dan kesempatan sehingga kita dapat menunaikan kewajiban shalat Jumat di Masjid Al Muttaqin

Shalawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atas Uswah dan qudwahnya sehingga kita bisa membedakan mana yang Haq dan mana yang batil.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.

Di hari sayyidul ayyam ini Sebagai khatib Jum’at hari ini, saya mengajak kepada Jamaah sekalian, marilah kita memelihara dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala, semoga dengan ketakwaan yang kita jalani setiap hari, akan mendatangkan keberkahan Allah subhanahu wata’ala kepada kita. Aamiin.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.

Judul khutbah Jum’at hari ini adalah “Memaknai Kemerdekaan dalam Perspektif Tauhid “

Pada Momentum HUT Kemerdekaan RI ke – 78 ini kita harus menengok sejarah
Bangsa Indonesia pernah mengalami penjajahan selama 350 tahun oleh Belanda dan 3 ½ tahun oleh Jepang, melalui perjuangan yang gigih dan pengorbanan para Ulama’ dan santri serta rakyat Indonesia yang luar biasa berupa jiwa raga dan harta benda yang dimilikinya pada saat itu, akhirnya tanggal 17 Agustus 1945 atau 77 tahun yang lalu, Bung Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia memproklamirkan Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia menetapkan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (UUD 1945 Asli, sebelum di Amandemen) sebagai Konstitusi Negara Republik Indonesia.

Bingkai Ketauhidan dalam UUD Tahun 1945 terdapat pada Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga yang berbunyi “Atas berkat rahmat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya” kalimat atas berkat rahmat Allah subhanahu wata’ala tersebut mengandung makna bahwa kalau bukan rahmat Allah subhanahu wata’ala kepada bangsa Indonesia sulit Indonesia meraih kemerdekaan.

Demikian pula bingkai ketauhidan dalam batang tubuh UUD 1945 Pasal 29 ayat (1) menyatakan bahwa Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, kini Belanda dan Jepang menjadi negara sahabat negara Indonesia bersama-sama membangun peradaban dunia yang damai dan sejahtera.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.

Pada masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia, Umat Islam yang dipimpin oleh para Ulama Islam saat itu, selain berjuang secara fisik, juga berjuang secara non fisik yaitu dengan berdoa, berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala memohon pertolongan agar dapat mengatasi dan mengalahkan penjajah saat itu, berjuang meraih kemerdekaan dengan perspektif Ketauhidan yakni meyakini akan kekuasaan dan kekuatan adalah milik Allah subhanahu wata’ala, Laa hawla wa la Quwwata illa Billah, tiada kekuatan kecuali kekuatan dari Allah subhanahu wata’ala, tiga bulan setelah proklamasi kemerdekaan RI, terjadi lagi pertempuran hebat di Surabaya, tanggal 10 November 1945 antara pasukan Inggris dan Pasukan Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia.

Namun rakyat Indonesia di Surabaya tidak menyerah dan dengan berbekal tauhid yaitu Resolusi atau Fatwa Jihad yang dikeluarkan tanggal 22 Oktober 1945 dan dipelopori oleh Hadratus Syeh K.H. Hasyim Asy’ary yang subtansi isinya penolakan kembalinya kekuasaan kolonial (Penjajah) dan mengakui kekuasaan Republik Indonsia yang baru merdeka sesuai hukum Islam dan memerangi penjajah hukum wajib, kemudian dinyatakan dalam fatwa tersebut bahwa yang gugur dalam melawan penjajah hukumnya syahid karena berjuang fi sabilillah melawan penjajah untuk mempertahankan kemerdekaan.

Kemudian bingkai ketauhidan berupa Gema Takbir Allahu Akbar yang dikumandangkan oleh Bung Tomo pada saat pidatonya tanggal 10 November 1945 menjadi penyemangat arek arek Suroboyo khususnya yang tidak gentar oleh serangan 30,000 pasukan Inggris di Surabaya. Bung Tomo mengatakan “Andai tidak dengan kalimat Allahu Akbar, saya tidak tahu dengan apa membakar semangat para pemuda melawan penjajah”, sebagai penghormatan atas perjuangan mempertahankan kemerdekaan, maka tanggal 10 November dinyatakan sebagai hari Pahlawan dan diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.

Sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan” (QS. al-Qashash/28 : 77).

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah. Demikianlah khutbah Jumat ini, semoga menjadi tadzkirah bagi kita semua, dan semoga kita dapat mengisi kemerdekaan dengan selalu beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Reporter: Alfain Jalaluddin Ramadlan