Di Bumi Arema Identitas Lamongan Tetap Dikibarkan

Listen to this article

MALANG lintasjatimnews.com – Kabupaten Lamongan merupakan sebuah wilayah yang terletak di provinsi Jawa Timur, memiliki beragam keunikan atau local wisdom tersendiri, dan dikenal seantero negeri. Mulai dari tim sepakbolanya yakni Persela Lamongan, dengan makanannya yakni Soto Lamongan, Pecel Lele, dan masih banyak lagi.

Persebaran masyarakat Lamongan di negeri ini, merupakan sebuah hal lumrah sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat daerah-daerah lain. Sebagaimana yang terjadi di Kota Malang yang disebut juga sebagai Bumi Arema.

Keberadaan masyarakat Lamongan di bumi Arema sangatlah banyak dengan berbagai faktor atau latarbelakang yang berbeda-beda tentunya. Faktor pendidikan, pekerjaan, pasangan, maupun faktor-faktor lain yang mempengaruhi masyarakat Lamongan untuk merantau ke bumi Arema, bahkan mengisi dan menjadi pejabat publik di kota Malang.

Salah satu perantau Lamongan di Malang adalah Ma’ruf Tohari, pria kelahiran Bedingin, Sugio, Lamongan ini merupakan salah satu warga Lamongan yang sudah lama malang melintang dan sudah berdomisili di Kota Malang.

Ma’ruf Tohari merupakan pengusaha yang memiliki toko kaca, alumunium, dan galvalum yang terletak di Jl. Parseh Jaya No. 60, Kel. Bumiayu, Kec. Kedungkandang, Malang.

Pria yang tidak asing ditelinga para perantau Lamongan di kota Malang ini, merupakan salah satu tokoh yang sering diminta pendapat maupun tukar pikiran oleh perantau di Malang terkhususnya.

Beliau menjadi salah satu pengurus dan penggerak sebuah paguyuban warga rantau Lamongan di Malang yang diberi nama BANGLADES yang memiliki arti Bangsane Lamongan Desa.

Beliau juga sering dijadikan salah satu tokoh rujukan baik pendapat, motivasi, maupun tukar pikiran para perantau Lamongan di kota Malang, baik dari LA NGALAM (wadah supporter Persela Lamongan di Malang) maupun para mahasiswa Lamongan yang tergabung dalam IKAMALA (Ikatan Mahasiswa Lamongan).

Tidak hanya itu, Beliau yang dulunya menempuh pendidikan S1 Fakultas Hukum di Universitas Jember, dan menjadi ketua HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Komisariat Hukum Universitas Jember pada masanya, dan memulai usaha yang beliau tekuni dengan nol pastinya.

Bermodalkan keterampilan dan jiwa pemberani untuk survive dimanapun itu, sebagaimana yang dimiliki oleh masyarakat Lamongan pada umumnya.
 
Memulai berbagai usaha yang beliau, sampai pada menemukan dan membangun usaha bisnis toko kaca, alumunium, dan galvalum. Dengan etos kerja yang tinggi dan semangat beliau dalam menekuni bisnis ini, sampai pada akhirnya pada tahun 2017 an, usaha yang beliau pimpin memiliki sebanyak 60 karyawan.

Tidak hanya sampai disitu, tempat usaha beliau juga dijadikan sebagai kantor maupun basecamp berbagai komunitas yang beliau bentuk maupun beliau tekuni. Diantaranya sebagai kantor LBH (Lembaga Bantuan Hukum), menjadi basecamp grup Mancing Mania Malang yang telah beranggotakan kurang lebih 131.000 (seratus tiga puluh ribu) anggota, dan beliau juga merupakan pencetus nama dari grup mancing tersebut, dan masih banyak lagi.

Mewujudkan kecintaannya pada kota kelahiran Lamongan, yakni ketika semua aset kendaraan yang beliau miliki disematkan alamat Bedingin, Sugio, Lamongan. Tidak lain dan tidak bukan sebagai wujud kebanggaan dan upaya beliau dalam memperkenalkan Lamongan di khalayak umum.

Beliau juga mencetuskan nama-nama tokoh desa beliau untuk dijadikan sebagai nama jalan yang ada di desa Bedingin, Sugio, Lamongan. Saking bangganya beliau dengan kota kelahirannya, beliau selalu berpesan manakala ada pertemuan komunitas maupun paguyuban warga Lamongan di Kota Malang, untuk selalu bangga dan menjaga nama baik Lamongan dimanapun berada.

Sampai-sampai beliau dan  lainnya (perantau di Malang) telah lama dan berusaha mewujudkan pengadaan Sekretariat Lamongan di Kota Malang. Guna memfasilitasi berbagai kegiatan maupun perkumpulan warga Lamongan di Malang.

Memaknai hidup adalah sebuah perjalanan yang harus tetap dijalankan dan diperankan sebaik mungkin, sebagaimana beliau berpegang teguh dan termotivasi oleh kata-kata K.H Ahmad Dahlan bahwa “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan Jangan Mencari Kehidupan di Muhammadiyah” yang beliau implementasikan kedalam kehidupan beliau dimanapun berada.

Dari kisah inilah, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kecintaan kepada tanah kelahiran sekaligus mengangkat segala identitas baik, yang dimiliki oleh tanah kelahiran adalah sebuah keharusan yang akan menjadikan sebuah kebanggaan.

Mengangkat nama tanah kelahiran dengan selalu menjaga nama baik dimanapun berada, dan selalu berusaha menjalin silaturrahim sesama warga perantauan. Sehingga ada banyak sekali metode atau cara mencintai tanah kelahiran dan membanggakannya di tanah perantauan.

Sebagaimana telah dicontoh dan dipraktikkan oleh bapak Ma’ruf Tohari, pria asal Bedingin, Sugio, Lamongan yang menjadi perantau dan berdomisili di bumi Arema atau kota Malang.

Reporter: Alfain Jalaluddin Ramadlan