Musim Barat Tiba, Nelayan Tradisional Lamongan Libur Melaut dalam Jangka Panjang

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews.com – Setelah 3 bulan lebih musim tangkapan rajungan sangat sepi dialami nelayan tradisional Lamongan. Musim tangkapan rajungan belum ramai (along-along), kini nelayan tradisional menghadapi musim barat yang mengaruskan libur melaut sampai 1 sampai dengan 3 bulan.

Nelayan mengenal istilah Musim Barat atau “Baratan”, biasanya cuaca di lautan sangat buruk yang ditandai dengan angin sangat kencang dari arah barat, awan hitam pekat bergulung-gulung dan sering terjadi hujan seharian. Musim Barat juga disertai dengan ombak dan gelombang laut yang sangat besar mencapai 1 sampai dengan 3 meter.

Berdasarkan iklim tropis di Indonesia, musim barat bisasanya terjadi di bulan Desember sampai dengan bulan Februari. Bahkan terkadang terjadi sampai bulan Maret. Kondisi demikian berdampak pada aktifitas nelayan terganggu total, karena tidak bisa beraktivitas melaut untuk menangkap ikan atau rajungan.

Musim barat sangat memberatkan bagi nelayan tradisional Lamongan, padahal nelayan harus tetap memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari. Di samping itu, nelayan harus memenuhi kebutuhan lainya, seperti; kebutuhan biaya pendidikan bagi anaknya, pulsa listrik agar tetap menyala, dan lain-lainya.

Salah satu nelayan Blok Babakan Sukunan Paciran, Imam Syafi’i, menuturkan kepada reporter lintasjatimnews, Senin (26/12/2022), “Musim barat bisanya dialami nelayan tradisional Lamongan di akhir tahun atau mulai bulan Desember. Musim barat dialami sampai 2 bulan, bahkan terkadang 3 bulan. Nelayan tradisional tidak ada yang berani melaut karena kondisi cuaca sangat buruk yang bisa membahayakan keselamatan dirinya,” demikian tuturnya.

“Sudah 4 hari ini nelayan libur total karena musim barat telah tiba, hari-hari ini sampai 2 bulan atau 3 bulan mendatang aktivitas utama teman-teman nelayan ya memperbaiki perahu, mesin, dan peralatan tangkap lainnya. Selain itu, biasanya kita duduk berkelompok ngobrol dengan riang di gubuk-gubuk (camp) sepanjang pantai. Sambil memandang gelombang laut yang bergulung-gulung dan mendung hitam pekat, serta berdo’a kepada Allah supaya musim barat segera reda (tedo),” pungkasnya

Musim barat berdampak pada perekonomian masyarakat pesisir, khususnya nelayan tradisional nelayan karena sebagai tulang punggung perekonomian keluarga yang perlu diberdayakan kesejahteraannya. Setiap musim barat terjadi kemiskinan temporer (Seasonal poverty) pada masayarakat nelayan tradisional, maka perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak pemangku kebijakan.

Tugas dan tanggungjawab pemerintah daerah, LSM yang bergerak di bidang nelayan, organisasi profesi nelayan (HNSI) dan kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap nelayan untuk melakukan pendampingan dan pemberdayaan nelayan dan keluarganya agar dapat keluar dari kemiskinan temporer yang terjadi setiap tahun menghampiri di musim barat.

Reporter: Efendi