LAMONGAN lintasjatimnews – Nelayan tradisional Desa Paciran, Lamongan sudah seminggu ini sebagian telah beralih mencari alternatif untuk menangkap rebon (udang kecil, bahan pokok terasi), karena harga hasil tangkapan rajungan masih belum beranjak dari normal.
Musim rebon tahun ini lebih cepat dari pada tahun lalu (2021), dari pantauan reporter lintasjatimnews di lokasi, Kamis (28/7/2022) nelayan mulai panen rebon. Perolehan tangkapan rebon dalam minggu ini mulai membaik, hasil tangkapan rebon berkisar antara 1 kuintal sampai dengan 3 kuintal dalam sekali melaut.
Salah satu nelayan Blok Babakan Gerong, Rawan, mengatakan, “Sudah 4 hari ini saya menagkap rebon. Alhamdulillah hari ini saya mendapatkan hasil tangkapan 2,5 kuintal rebon, harganya masih seperti tahun kemarin (2021) Rp 3.000 per kilogram rebon basah. Walaupun belum naik, setidaknya ada pilihan lain untuk melaut selain menangkap rajungan, “demikian katanya.
Nelayan lain dari Babakan Rembug Rukun, Muhajirin menuturkan, “Hari ini (28/7/2022) konco-konco nelayan mendapatkan hasil tangkapan rebon cukup bagus. Saya sangat bersyukur, hari mendapatkan hasil tangkapan 2 rebon kuintal, “demikian tuturnya.
Rebon hasil tangkapan nelayan tradisional biasanya dijual kepada tengkulak atau pembeli hasil laut yang menjadi langganan nelayan masing-masing. Kemudian rebon dijemur di bawah terik panas matahari yang menyengat tujuannya supaya menjadi sangat kering sehingga mudah untuk dijadikan ebi (bahan pembuat terasi).
Ketika musim rebon tiba dan kebetulan anda jalan-jalan di perkampungan nelayan tradisional Desa Paciran Lamongan, maka jangan heran dengan bau menyengat khas ebi karena di sepanjang babakan Gerong, Watu Bayang, dan Rembug Rukun digunakan untuk menjemur rebon.
Tengkulak biasanya menyimpan rebon yang telah menjadi ebi untuk dibuat terasi sedikit demi sedikit, terkadang ada juga yang menjual ebi kepada pedagang dari luar desa karena banyak yang mencari.
Reporter: Ali Efendi









