SURABAYA lintasjatimnews – Menjelang peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus 1945. Warga mulai adakan lomba, terlihat warga Gading 7A Surabaya punya cara lain untuk merayakan kemerdekaan Indonesia. Yaitu, dengan lomba makan krupuk. Yang di ikuti oleh anak-anak warga setempat. Anak-anak tersebut sangat antusias mengikuti lomba. Sedangkan para orang tua mereka ikut menyaksikan dan memberi dukungan kepada anaknya mau pun cucu-cucunya. Lomba ini di jadwalkan setiap hari Sabtu dan Minggu.
Tampak ada teriakan pendukung berkumandang saat melihat kawan, anaknya dan cucu-cucunya mengikuti perlombaan 17 an.
Di kampung itu, lomba makan kerupuk menjadi salah satu tradisi yang wajib diselenggarakan saat memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Pemandangan kerupuk yang digantung sudah tak asing lagi saat 17 Agustus tiba.
Tampak anak anak dengan kondisi tangan di bawah dan berusaha menghabiskan kerupuk yang sudah tergantung. Siapa yang menghabiskan paling cepat dialah pemenangnya. Rupanya bukan sekadar untuk bersenang-senang,lomba makan kerupuk menyimpan sejarah dan filosofi tersendiri. Sejarah lomba makan kerupuk dijabarkan oleh sejarawan dan penulis buku Jejak Rasa Nusantara. Sejarah makanan Indonesia semakin berkembang seiring dengan kemerdekaan Indonesia.
“Banyak perlombaan-perlombaan yang diadakan saat masa 17an nanti. Seperti, lomba makan krupuk, lomba kelereng, lomba masukan paku dalam botol, lomba kempit balon, lomba joget, lomba sungun tempe, lomba ngedot, dan lomba merias tanpa cermin,” ujar Bapak Romli warga setempat
Pada masa sekarang aneka perlombaan memperingati hari kemerdekaan bisa terlaksana dengan baik. Beda pada 1945 hingga 1950-an masih banyak peperangan yang mengharuskan rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaannya. Sehingga masyarakat tidak sempat merayakan kemerdekaan Indonesia dengan beraneka macam perlombaan dan perayaan, memeriahkan dan selamatan tumpengan.
Reporter: Eko








