LAMONGAN lintasjatimnews – Sholat Idul Adha Stadion Surajaya Lamongan gelar Sholat Idul Adha 1443 H, Sabtu (9/7/2022) di halaman stadion Surajaya Lamongan.
Bertindak sebagai Imam dan Khotib Ust. Dr. H. M. Nurul Humaidi, M.Ag (Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jawa Timur, Sekretaris Pimpian Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang).
Sebelum sholat Idul Adha dimulai, Ketua Panitia Bapak Drs. H. Wahyudiono, M.Pd dalam sambutanya menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Pemda Lamongan, jajaran Polres Lamongan, Koramil Deket yang membantu dalam pelaksanaan sholat Idul Adha hari ini.
Juga para Jamaah yang pagi hari ini turut hadir dan mengikuti sholat Idul Adha 1443 di Stadion Surajaya.
Selanjutnya Ust. M. Nurul Humaidi dalam khutbahnya menyampaikan, ketika kita melakukan qurban, kita pancangkan niat yang benar, hanya untuk Allah sebagai manifestasi kepasrahan, kepatuhan, dan ketundukan kepada-Nya. Setiap amal yang dilakukan tanpa iman dan tanpa niat tidak akan diterima di sisi Allah.
Tanpa niat dan kesadaran akan makna sujud yang setiap kali kita lakukan dalam shalat adalah tidak lebih daripada menyentuhkan dahi ke permukaan tanah. Tanpa niat dan kesadaran akan makna penyembelihan qurban yang setiap kali kita lakukan pada hari Idul Adha, adalah tidak berbeda dengan penyembelihan hewan di pusat-pusat penjagalan hewan.
Penyembelihan qurban, di samping ibadah yang wajib kita lakukan, adalah lambang atau simbolisasi dari usaha keras kita, jihad kita, dan perjuangan kita, untuk menyingkirkan segala sesuatu yang melemahkan iman, segala sesuatu yang membuat kita tidak mau mendengarkan perintah dan larangan Islam, agama kita sendiri yang bahkan kita anut sejak lahir itu.
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang juga menambahkan, Qurban juga melambangkan usaha dan perjuangan keras kita untuk menyingkirkan segala sesuatu yang membutakan mata kita, menulikan telinga kita, membebalkan hati kita, dari ajaran-ajaran Allah, ajaran-ajaran kebenaran, yakni ajaran-ajaran Islam yang haqq.
“Qurban juga merupakan simbolisasi jihad kita untuk menyingkirkan segala sesuatu yang membuat kita lebih menyukai segala kesenangan dunia yang berdimensi jangka pendek, dan menjauhi yang berdimensi jangka panjang dan abadi,” ungkapnya.
Untuk itu, maka qurban dalam Islam bukan berarti mengorbankan “sesuatu” atau “kambing” untuk Sang Dewa, atau untuk Tuhan, apalagi untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Reporter: Alfain Jalaluddin Ramadlan








