Ponpes Manba’al Ulum Adakan Wisuda Khotmil Qur’an Ke IX Dalam Rangka Haflah Akhirussanah

Listen to this article

TUBAN lintasjatimnews – Wisuda Khotmil Qur’an Ke IX di Pondok Pesantren Manba’ul Ulum cukup meriah, moment tersebut menjadikan kebanggaan tersendiri bagi ustadz dan ustadzah serta wali santri yang hadir saat mengikuti prosesi acara mengharukan tersebut.

Acara wisuda dan pengajian umum dalam rangka Haflah Akhirussanah ini diadakan di kompleks Masjid Al-Musa Morosemo Desa Sumberagung Kecamatan Plumpang pada hari Sabtu, 4 Juni 2022 dengan dihadiri oleh Para Alim Ulama, Porkopimdes, wali santri serta masyarakat umum.

Dalam sambutannya Ustadz Khumaidi selaku Ketua panitia sekaligus alumni Ponpes Manba’ul Ulum menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya pada semua wali santri serta masyarakat yang telah hadir dalam mendukung terselenggaranya acara tersebut.

“Ilmu yang bermanfaat adalah kunci sukses bagi para santri kelak dalam mengabdi di masyarakat dan semoga semua santri yang telah mengikuti wisuda khotmil qur’an diberikan keberkahan oleh Allah swt,” sambutnya.

Diteruskan dengan sambutan Pengasuh Pondok Pesantren Manba’ul Ulum, Kyai Abdul Muhaimin menyampaikan bahwa kegiatan haflah akhirussanah yang rutin diadakan setiap tahunnya ini sebagai tanda istiqomah dalam beramaliyah ustadz dan ustadzah serta santri Pondok Pesantren Manba’ul Ulum.

Mbah Yai Muhaimin sapaan beliau, tak lupa mendoakan semua santrinya agar kelak menjadi anak yang sholih dan sholihah serta bermanfaat ilmunya ke depan, sebab jariyah ilmu yang bermanfaat dapat membahagiakan kedua orang tua melalui do’a anak yang sholih dan solihah.

“Kalau orang tua ingin punya anak yang sholih harus dididik dengan ilmu agama di pondok pesantren,” kata kyai yang ditangannya selalu membawa kitab Qur’an kecil ini.

Beliau menegaskan tidak ada anak yang nakal yang ada adalah orang tua yang tidak bisa mendidik anak-anaknya, karena pada dasarnya semua anak itu dilahirkan dalam keadaan baik dan suci.

“Tanda-tanda kiamat terlihat dekat itu kalau ilmu sudah dihilangkan dari muka bumi dan kebodohan sudah ditampakan oleh Allah swt,”, tegas Romo Yai Muhaimin.

Setelah sambutan berakhir dilanjutkan dengan prosesi wisuda santri Khotmil Qur’an, saat itu juga menggema lagu Indonesia Raya dengan diikuti oleh semua yang hadir di sana sebagai rasa cinta tanah air untuk mengawali prosesi wisuda yang diikuti oleh 43 santri.

Majlis Pembina TPQ selaku tim pewisuda dari Pondok Pesantren Langitan menyiapkan untuk melakukan uji petik pada 3 santri wisudawan.

Ustadz Ircamni Mashadi, S.Pd.I selaku ketua tim pewisuda merasa terharu dan bangga kepada para santri Manba’aul Ulum yang fasih serta mampu dalam membaca Alqur’an, beliau menyampaikan bahwa rumah akan terpancar sebuah cahaya disaat bacaan Alqur’an selalu terdengar didalamnya, jadi bersyukurlah bagi orang tua yang dikarunia seorang anak terdapat dalam dirinya selalu membaca serta mencintai Alqur’an.

Saat diwawancarai oleh lintasjatimnew.com, Ustadz Agus Mustofa, S.Pd.I selaku pembina TPQ Ponpes Manba’ul Ulum menambahkan bahwa tanggal 15 Mei 2022 yang lalu telah dilakukan tes pada semua santri calon wisudawan oleh tim munaqisy Majlis Pembina TPQ Annaziah Ponpes Langitan.

Ustadz yang menjadi guru agama di SDN Ngrayung ini juga menyampaikan bahwa setelah para santri diwisuda berarti telah dinyatakan hatam dalam membaca Alqur’an 30 juz, selanjutnya mereka nantinya akan mengikuti jenjang pendalaman kitab kuning di madrasah diniyah awaliyah sampai ke jenjang wustho hingga ulya.

Lanjut ustadz Agus, bahwa pendidikan kesetaraan jenjang tingkat wustha adalah pendidikan dasar pada Pondok Pesantren Salafiyah yang setara dengan SMP/MTs, sedangkan pendidikan kesetaraan tingkat ulya adalah kesetaraan jenjang pendidikan menengah yang setara dengan SMA/MA/SMK.

Saat ditanya apakah ada kendala yang dialami oleh para santri dalam menyelesaikan pendidikan. Jawabnya, “Para santri jarang yang lulus hingga 100 % ke tingkat ulya, ini disebabkan kurangnya perhatian orang tua atau wali santri akan pentingnya menyelesaikan pendidikan agama di pesantren serta anggapan mereka bahwa anak kalau sudah hatam Alqur’an berarti pendidikan agamanya sudah selesai,” pungkas ustadz yang selalu tersenyum ramah ini.

Penghujung acara pengajian umum atau tausiyah dan diakhiri dengan bacaan do’a oleh Bapak KH. Syarifuddin dari Rembang Jawa Tengah.

Reporter : Slamet Efendi