LAMONGAN lintasjatimnews – Sudah seminggu lebih nelayan tradisional Lamongan menikmati musim tangkapan rajungan yang melimpah. Hasil perolehan tangkapan rajungan berkisar antara 7 kilogram sampai dengan 60 kilogram.
Imam Syafii salah satu nelayan dari Desa Paciran yang pulang melaut lebih awal mengatakan, “Alhamdulillah hasil tangkapan rajungan beberapa hari ini along-along (hasilnya sangat melimpah), hari ini saya mendapat 7 kilogram, namun demikian saya merasa bersedih karena hasil tangkapan tidak seimbang dengan harga rajungan. Saat ini harga rajungan hanya Rp 45.000 sampai dengan Rp 55.000” demikian ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Rohim, nelayan dari kampung Sukunan Paciran, “Memang hasil tangkapan bagus, tetapi harganya anjlok alias terjun bebas. Padahal seminggu setelah lebaran harga masih Rp 100.000 sampai dengan Rp 135.000“ jelas pria ketua babakan Sidodadi.
Jeritan nelayan tradisional Lamongan terhadap ambruknya harga rajungan membuat nelayan berpikir memeras otak. Hari-hari ini harga rajungan sangat murah, sementara harga solar atau Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu yang lalu mengalami kenaikan. Jadi antara hasil tangkapan yang diperoleh dengan harga BBM tidak seimbang.
Rabu (1/6/2022) reporter menanyakan secara langsung di lokasi kepada Ibu Faizah salah satu istri nelayan mengatakan, “Kami sebagai istri nelayan hanya bisa berdoa dengan penuh harapan, semoga harga rajungan bisa kembali seperti semula sehingga penghasilan cukup untuk menghidupi keluarga,” kata Ibu rumah tangga di kampung Watu Bolong Paciran.
Harapan nelayan tradisional, pemerintah Kabupaten Lamongan dan stakeholders yang terkait untuk turut serta membantu mengatasi persoalan saat ini. Nelayan tradisional Lamongan tidak mengetahui penyebabnya sehingga harga rajungan menjadi murah.
Saai ini Nelayan benar-benar menunggu harapan dan solusi terbaik, agar harga rajungan bisa stabil dan normal kembali.
Reporter: Ali Efendi








