NGANJUK lintasjatimnews – Rumah Baca Api Literasi (RBAL) merayakan ulang tahun keempat yang jatuh pada 1 April 2022. Ini merupakan menjadi kebahagiaan kebanyakan orang terkhusus bagi pegiat Rumah Baca Api Literasi yaitu yang dialami Septi Sartika.
Sekretaris Umum (Sekum) Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiwa Muhammadiyah (IMM) Nganjuk Septi Sartika ini mengatakan, tentang Rumah Baca Api Literasi ia sangat mengapresiasi sekali mengenai usaha dan juga ikhtiar yang telah di dirikan.
Ia menambahkan, Karena minimnya daya minat baca masyarakat di Indonesia hanya 0,001 persen. Yaitu sama dengan dari 1000 orang, hanya 1 orang yang suka membaca buku. Dari sini membuktikan masyarakat Indonesia masih kurang dalam ketertarikannya dalam membaca buku. Dari faktor tersebut yang seharusnya kita tingkatkan lagi daya minat masyarakat untuk melalukan tradisi membaca buku. Salah satunya bisa dimulai dari sebuah gerakan Pegiat Rumah Baca Api Literasi ini.
“Sejak masih SD hingga ke jenjang SMP masih kurang suka atau tidak terlalu tertarik mengenai tradisi membaca buku. Namun saat itu, sejak memasuki SMP kelas 8 mulai dikenalkan dengan budaya literasi di sekolah. Saat sebelum pembelajaran dimulai semua siswa diwajibkan untuk membaca buku apa saja yang terdapat di rak buku di tiap masing-masing kelas. Meskipun mayoritas bukunya mengarah ke non akademik namun kegiatan tersebut jika dilakukan secara terus menerus maka akan menjadi budaya, tradisi yang patut kita lakukan saat kita sudah memasuki ke jenjang perguruan tinggi,” Cerita Septi kepada lintasjatimnews (30/3/2022).
Pegiat Rumah Baca Api Literasi ini menambahkan, apalagi sekarang banyak diantara mahasiswa yang malas dan tidak mau membaca buku, jika kita saja tidak mau membaca buku, lantas bagaimana keadaan generasi-generasi kita nanti selanjutnya. Salah satunya banyak generasi milenial sekarang ini yang masih terpaku dan terjebak pada dunia gadget, sehingga buku sudah tidak lagi penting. Atau buku hanya dijadikan sebagai formalitas saja untuk dunia sekolah, perkuliahan dan lain sebagainya.
Alumni LID PC IMM Tulungagung ini menuturkan, dari Rumah Baca Api Literasi ini bisa menginspirasi ribuan anak muda yang mau menerapkan budaya literasi ini ke dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya saat kita diperkuliahan saja disuruh untuk membeli buku ini itu, tapi dari diri kita sendiri masih tidak mau untuk memahami isi dari buku tersebut.
Dari gerakan RBAL ia merasa lebih termotivasi dengan adanya gerakan tersebut bahwasanya masih ada orang yang memperdulikan keadaan Indonesia di masa yang sekarang khususnya pada minat baca yang masih minim mungkin dari sini nantinya akan muncul qhiroh yang tinggi untuk membaca buku. Khususnya kita bagi para pelajar ataupun mahasiswa yang mana buku adalah alat untuk kita menambah ilmu pengetahuan secara langsung bukan hanya melalui gadget ataupun internet saja.
Instruktrur PC IMM Nganjuk ini berpesan, untuk Rumah Baca Api Literasi agar bisa memastikan gerakan-gerakan diskusi mengenai buku yang sudah dibaca yaitu salah satunya bisa dilakukan dengan rutin setiap 1 minggu 3 kali ataupun 4 kali karena tradisi ini tak lepas dari kebiasaan yang harus dilakukan secara terus-menerus dan menghasilkan gerakan yang masif.
“Selanjutnya bisa disebarkan ke berbagai daerah yang masih kurang daya minatnya atau minim membaca buku khususnya bagi anak-anak yang masih pelajar untuk lebih ditekankan tentang pentingnya membaca buku serta bisa menambahkan family gathering ataupun outbound yang bisa diterapkan ke dalam gerakan diskusi mengenai buku kepada anak-anak yang mungkin ada diantaranya masih merasa bosan saat membaca tulisan-tulisan saja namun tidak ada pengaplikasiannya secara langsung karena secara pemikiran mereka masih belum matang untuk menerima semua pelajaran yang ada pada buku tersebut,” pungkas Septi.
Reporter: Fathan Faris Saputro









